Radar Malang
[ Selasa, 04 Mei 2010 ]
Syaikhu Ahmad Yani SPd, Guru SD Sabilillah Peraih Prestasi Dunia
Ubah Momok Matematika Jadi Pelajaran Menyenangkan
Kepiawaian Syaikhu Ahmad Yani menerapkan pembelajaran ilmu berhitung
metode RME (realistic mathematic education) mengantarkannya pada
prestasi dunia. Syaikhu meraih juara I tingkat dunia pada lomba
kreativitas pembelajaran yang digelar Seameo (Southeast Asean Minister
of Education Organization) di Jogjakarta.
Ahmad Yahya
—
Syaikhu Ahmad Yani SPd tampil beda. Pagi kemarin, guru matematika
sekaligus wakil kepala humas Sekolah Dasar Islam (SDI) Sabilillah Malang
ini tak mengenakan seragam putih yang biasa dipakai para guru SDI
Sabilillah pada hari Senin. Dia mengenakan seragam Korpri bercorak
kebiru-biruan dengan lambang garuda di sejumlah bagian.
Syaikhu memang tak berseragam seperti guru lainnya. Karena Senin
kemarin, dia diharuskan tampil dengan seragam Korpri untuk menerima
penghargaan dari Wali Kota Peni Suparto. Dia diundang Dinas Pendidikan
Kota Malang dalam upacara peringatan Hardiknas (Hari Pendidikan
Nasional) dan menerima penghargaan.
Undangan khusus itu didapat Syaikhu karena ia turut menyumbang nama
harum Kota Pendidikan di bidang pendidikan pada even internasional
Februari lalu di Jogjakarta. Lelaki 30 tahun ini mampu menyingkirkan
belasan delegasi dari sejumlah negara. Di antaranya, Malaysia, Filipina,
Kamboja, Thailand, Laos, Vietnam, dan Timor Leste.
Lomba yang diikuti Syaikhu adalah QITEP (Quality Improvement of Teacher
and Education Personnel) in Mathematics. ''Sebelum ikut lomba, saya
digembleng dengan pelatihan selama satu bulan di Jogjakarta,'' ucap
Syaikhu.
Alumnus FKIP Unisma ini menang setelah metode pembelajaran matematika
RME (realistic mathematic education/pendidikan matematika realistis)
yang dibuatnya mampu menyedot perhatian tim juri. "Metode ini memudahkan
dan menggembirakan anak-anak. Karena anak-anak juga diajak berpikir
untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi," ujar pria kelahiran
Mojokerto ini di SDI Sabilillah, siang kemarin.
Metode RME merupakan metode belajar matematika yang ditemukan Prof Hans
Freudenta dari Belanda. Metode ini mengedepankan pembelajaran secara
realistis melalui interaksi langsung antara guru dan siswa.
Syaikhu pun memeragakan model RME-nya. Ia mengajak sejumlah siswa. Lalu
dia mengambil balok dan segitiga. Lantas sejumlah siswa diminta
mengumpulkan balok dan segitiga itu menjadi satu.
Para siswa tampak antusias. ''Mereka tak sekadar ditunjukkan ragam
bentuk, tapi juga diajak berpikir dulu. Kalau ada problem, mereka
sendiri diminta mengurai persoalan yang terjadi," terang Syaikhu.
Misalnya, saat anak-anak bermain dengan beragam bentuk, lalu diminta
untuk mengumpulkan bentuk dan benda dengan yang ciri-ciri yang sama.
Setelah itu, baru ditunjukkan nama bentuk tersebut. Seperti bentuk segi
tiga, segi empat, dan seterusnya. "Ini cukup sederhana, tapi akan
mengena pada anak-anak. Apalagi dengan menyuguhkan dari kehidupan yang
ada di sekeliling mereka," kata bapak satu anak ini.
Metode RME yang dibuat Syaikhu ini memang mengajarkan siswa cara
memahami matematika secara mudah. Tepatnya, tanpa harus banyak
menghafal.
Misalnya, untuk menghitung 2 x 3 tak perlu menggunakan hafalan seperti
yang dilakukan siswa selama ini. Guru harus mengajari anak dengan alat.
Misalnya menggunakan tiga gelas yang diisi masing-masing dua buah.
Dengan cara itu, subtansi matematika mudah dicerna siswa.
Beberapa keunggulan RME itu pun dapat membuat anak-anak berpikir secara
mudah. Apalagi cara mengajarnya juga menggembirakan sehingga akan
melekat di ingatan. "Matematika bukan hal yang rumit, juga bukan momok.
Matematika itu menyenangkan," ujarnya.
Kini, Syaikhu punya kewajiban menyebarkanluaskan metode pendidikan
matematika yang memudahkan tersebut. Khususnya di lembaga yang saat ini
dia tempati. "Saya juga sudah menyampaikan ke dinas pendidikan, tinggal
menunggu tindaklanjutnya untuk dipakai di sekolah lain yang
membutuhkan," kata Syaikhu.
Sebelum mengantongi prestasi ini, Agustus tahun lalu Syaikhu juga masuk
menjadi finalis Ajang Indonesia Science Festival yang dihelat Depdiknas
(sekarang Kemendiknas). Sedang, di tingkat Kota Malang, dia meraih juara
II dalam lomba menulis buku mata pelajaran TIK (teknologi Informasi dan
komunikasi). (*/war)
Sumber:http://www.jawapos.co.id/radar…..rid=156376