Anda berada di ‘Pesantren’

Genre Goes To Ponpes Raudlatul Ulum

Genre Goes To Pesantren, adalah sebuah kegiatan sosialisasi program kependudukan dan KB yang digagas oleh Dinas BKKBN Jawa Timur, yang sasaran pesertanya adalah para santri. Pada kesempatan kali ini, giliran Pondok Pesantren Raudlatul Ulum yang mendapat kesempatan untuk melaksanakan sosialisasi ini. Acara yang dihadiri tidak kurang sekitar 2000 santri dilingkungan Pondok Pesantren Raudlatul Ulum, dipusatkan kegiatannya dihalaman Madrasah Raudlatul Ulum Putra.

Dalam Kesempatan ini, Kepala BKKBN Pusat menyampaikan betapa pentingnya menghindari pernikahan usia dini, yang rawan terjadi ditengah masyarakat yang masih awam tentang bahaya pernikahan usia dini. Selain itu, juga diberikan penyuluhan bidang kesehatan kepada para santri. Dalam acara yang berlangsung sejak siang sampai sore hari ini, juga dibagikan sejumlah doorprise bagi para peserta yang dapat ikut serta aktif memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh Panitia.

Berikut ini dokumentasi acara Genre Goes To Ponpes diPondok Pesantren Raudlatul Ulum

Read more »

Telah dibaca sebanyak 201 kali

Membangun asa dengan Pesantren Vokasional

Kedekatan masyarakat dengan dunia pesantren sudah tidak diragukan lagi, banyak cerita dan upaya untuk membagun dan memperthankan kedekatan ini sehingga beberapa diantaranya terjadi simbiosis mutualisme antara pesantren dan masyarakat sekitarnya. Demikian juga dengan dengan Pesantren Raudlatul Ulum, dengan menggandeng Yayasan Putera Indonesia, berusaha untuk  memberikan sumbangsih kepada masyarakat, khususnya masyarakat Desa Ganjaran, dengan memberikan beberapa keterampilan dalam mengolah sumberdaya alam menjadi beberapa bahan olahan dan bahan makanan, yang diharapkan dapat digunakan untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat sekitar. Bahkan diharapkan Desa Ganjaran bisa menjadi desa Home Industry dengan berbagai macam kegiatan yang menghasilkan bagi masayarakatnya. Read more »

Telah dibaca sebanyak 316 kali

QURBAN

  1. Pengertian Qurban Dan Hukumnya

 

Berqurban adalah menyembelih binatang ternak pada hari raya nahar (Idul Adha) dan hari-hari tasyrik yakni tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijjah, dengan niat semata-mata hanya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Berqurban hukumnya  sunnah muakkadah bagi orang Islam yang mampu dan berkecukupan. Allah berfirman :

Artinya :

Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu nikmat yang benyak, maka dirikanlah shalat karena tuhanmu dan berqurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus. (QS Al-Kautsar [108]: 1-3).

  Read more »

Telah dibaca sebanyak 765 kali

PENGELOLAAN KELAS

A.KONSEP DASAR PENGELOLAAN KELAS
Menurut “ LOIS V  Jonson “ dan “Maria bani”  (class room menejement) yang di ikhtibarkan oleh DR. Made Pidarta (1970).
1.    Pengelolaan kelas di tinjau dari konsep lama adalah mempertahankan ketertiban kelas
2.    Pengelolaan kelas di tinjau dari konsep moderen adalah proses seleksi dan penggunaan alat –alat yang tepat  terhadap problem dan situasi kelas
3.    Konsep dasar pengelolaan kelas sangat perlu dan penting dipahami oleh seorang pendidik karena konsep dasar pengelolaan kelas berperan penting dalam menciptakan suasana kelas yang konduksif.
B.TUJUAN PENGELOLAAN KELAS
Secara umum tujuan pengelolaan kelas  adalah penyediaan fasilitas bagi bermacam –macam kegiatan belajar siswa dalam lingkungan social . Suharsimi Arikunto ,(1988:68) berpendapat bahwa bertujuan pengelolaan adalah agar setiap anak dikelas padat bekerja dengan tertib sehingga segera tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien tujuan pengelolaan kelas pada hakikatnya  telah terkandung dalam tujuan pendidikan sebagai guru kita harus sadar tanpa mengelola kelas dengan baik maka akan menghambat kegiatan belajar mengajar.
C. PENEGRTIAN PENGELOLAAN KELAS
Pengelolaan kelas berdiri dari dua kata yaitu : pengelolaan dan kelas
Kata Pengelolaan  adalah  berasal dari kata “kelola” ditambah awalan  “pe dan an”.    Istilah lain dari pengelolaan kelas menagemen yang berarti tata pimpinan pengelolan.
Sedangakan kelas menurut ‘’ UMAR HAMALIK (1987;311)’’ adalah kelompok orang yang melakukan kegiatan belajar bersama yang dapat pengajaran dari guru . “SUHARSIMI ARIKUNTO” berpendapat bahwa pengelolaan kelas adalah suatu usaha yang dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan belajar mengajar / yang membantu dengan maksud  agar di capai kondisi yang optimal sehingga dapat terlaksana kegiatan belajarsiswa dapat berjalan dengan lancar dan terciptanya kondisi belajar yang optimal untuk berlangsungnya kegiatan belajar siswa.
D. BERBAGAI PANDANGAN TENTANG PENGELOLAAN KELAS
Arti pengelolaan kelas dapat ditinjau dari beberapa pandangan :
1.    Pandangan otoriter bahwa pengelolaan kelas sebagai proses mengontrol tingkah laku siswa atau seperangkat kegiatan guru untuk mempertahankan ketrtiban kelas.
2.    Pandangan permisif bahwa pengelolaan kelas adalah  seperangkat kegiatan guru untuk memaksudkan kebebasan siswa.
3.    Pandangan behavarior modivikation adalah seperangkat kegiatan guru untuk mengubah tingkah laku siswa. (proses pengubahan tingkah laku) kearah positif.
4.    Pandangan proses kelompok, bahwa pengelolaan keles adalah seperangkat kegiatan guru untuk menambahkan organisasi kelas yang efektif.
E.KONSEP OPERASIONAL PENGELOLAAN KELAS
Agar tercipta suasana belajar yang menggairahkan. Perlu diperhatikan pengaturan ruang kelas belajar penyusunan dan pengaturan ruang belajar hendaknya memungkinkan anak duduk berkelompok dan memudahkan guru bergerak secara leluasa untuk membantu siswa dalam belajar.
Dalam pengaturan ruang belajar, ada beberapa hal yang peerlu diperhatikan:
a.    Ukuran dan bentuk kelas
b.    Bentuk serta ukuran bangku dan meja siswa
c.    Jumlah siswa dalam kelas
d.    Jumlah siswa dalam setiap kelompok
Komposisi siswa dalam kelompok (seperti siswa yang kurang pandai dan yang pandai, pria dan wanita).

F. PRINSIP PENDEKATAN DALAM PENGELOLAAN KELAS
Sebagai pekerja professional seorang guru harus mendalami kerangka acuan pendekatan kelas,sebab di dalam penggunaannya ia harus terlebih dulu meyakinkan bahwa pendekatan yang di pilihnya untuk menangani suatu kasus pengelolaaan kelas merupakan alternative yang terbaiksesuai dengan hakikat masalahnya.
Berbagai pendekatan yang guru lakukandalam rangka pengelolaan kelas :
1.    Pendekatan kekuasaan
Pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses untuk mengontrol tingkah laku anak didik peranan guru disini adalah menciptakan dan mempertahankan situasi disiplindalam kelas.
2.    Pendekatan ancaman
Dari pendekatan ancaman ini pengelolaan kelas adalah juga sebagai suatu proses dalam mengontrol tingkah laku anak didik
3.    Pendekatan pengajaran
Pendekatan ini di dasarkan atas suatu tanggapan bahwa suatu perencanaandan pelaksanaan akan mencegah munculnya masalah tingkah laku anak didik.
4.    Pendekatan perubahan tingkah laku
a.    Semua tingkah laku yang baik dan yang kurang baik merupakan hasil proses belajar.
b.    Di dalam prosees belajar terdapat proses psikologis yang tanda mental berupa penguatan positif.
Dalam rangka memperkecil masalah gangguan oleh pengelolaan kelas, prinsip – prinsip pengelolaan kelas  dapat dipergunakan . maka adalah penting bagi guru untuk mengetahui dan menguasai prinsip – prinsip pengelolaan kelas yang akaan diuraikan sebagai berikut:
1.    Hangat dan antusiasi
Hangat dan antusiasi sangat diperlukan dalam proses belajar mengajar.
2.    Tantangan
Penggunaan kata –kata Tanya atau bahan – bahan yang menantang akan meningkatkan gairah anak didik untuk belajar.
3.    Penanaman disiplin diri
Tujuan akhir dari pengelolaan kelas adalah anak didik dapat mengembangkan disiplin diri sendri.
DAFTAR PUSTAKA
?    Adam and Dicky .Basic principles Of Student Teaching.N.Y,USA American Book Company 1946
?    Entang, M.ddk. pengelolaan kelas. Jakarta : PPLPTK. Depdikdup RI, 1985
?    Gooddykoondz, Bess.membantu anak agar sukses di sekolah. Jakarta.bulan bintang,1985
?    Conny Semiawan, dkk, pendekatan keterampilan proses bagaimana mengaktifkan siswa dalam belajar.Gramedia, Jakarta ,1985.

Telah dibaca sebanyak 418 kali

KUALITAS PENDIDIKAN DI INDONESIA

A. Kualitas Pendidikan di Indonesia
Bagi orang-orang yang berkompeten terhadap bidang pendidikan akan menyadari bahwa dunia pendidikan kita sampai saat ini masih mengalami “sakit”.Dunia pendidikan yang “sakit”ini disebabkan karena pendidikan yang seharusnya membuat manusia menjadi manusia,tetapi dalam kenyataannya seringkali tidak begitu.Seringkali pendidikan tidak memanusiakan manusia.Kepribadian manusia cenderung direduksi oleh system pendidikan yang ada.
Masalah pertama adalah bahwa pendidikan,khususnya di Indonesia,menghasilkan”manusia robot”. Kami katakan demikian karena pendidikan yang diberikan ternyata berat sebelah, dengan kata lain tidak seimbang.Pendidikan ternyata mengorbankan keutuhan,kurang seimbang antara belajar berfikir(kognitif)dan perilaku belajar yang merasa (efektif).Jadi unsur integrasi cenderung semakin hilang,yang terjadi adalah disintegrasi.Padahal belajar tidak hanya berfikir.Sebab ketika orang sedang belajar,maka orang yang sedang belajar tersebut melakukan berbagai macam kegiatan,seperti mengamati,membandingkan,meragukan,menyukai,semangat dan sebagainya.Hal yang sering disinyalir ialah pendidikan seringkali dipraktekkan sebagai sederetan instruksi dari guru kepada murid.Apalagi dengan istilah yang sekarang sering digembar-gemborkan sebagai “pendidikan yang diciptakan manusia siap pakai.Dan”siap pakai”di sini berarti menghasilkan tenaga-tenaga yang dibutuhkan dalam pengembangan dan persaingan bidang industry dan teknologi.
Ada dua factor yang mempengaruhi kualitas pendidikan,khususnya di Indonesia yaitu:
1. Faktor internal,meliputi jajaran dunia pendidikan baik itu Depatemen Pendidikan Nasional,Dinas Pendidikan daerah, dan juga sekolah yang berada di garis depan.Dalam hal ini,interfensi dari pihak-pihak yang terkait sangatlah dibutuhkan agar pendidikan senantiasa selalu terjaga dengan baik.
2. Faktor eksternal, adalah masyarakat pada umumnya.Dimana,masyarakat merupakan ikon pendidikan dan merupakan tujuan dari adanya pendidikan yaitu sebagai objek dari pendidikan.
Banyak faktor-faktor yang menyebabkan kualitas pendidikan di Indonesia semakin terpuruk.Fakto-faktor tersebut yaitu:
1. Rendahnya Kualitas Sarana Fisik
Untuk sarana fisik misalnya,banyak sekali sekolah dan perguruan tinggi kita yang gedungnya rusak,kepemilikan dan penggunaan media belajar rendah,buku perpustakaan tidak lengkap.Sementara laboraturium tidak standar,pemakaian teknologi informasi tidak memadai dan sebagainya.Bahkan masih banyak sekolah yang tidak memiliki gedung sendiri,tidak memiliki perpustakaan,tidak memiliki laboraturium dan sebagainya.
2. Rendahnya Kualitas Guru
Keadaan guru di Indonesia juga amat memprihatinkan.Kebanyakan guru belum memiliki profesionalisme yang memadai untuk menjalankan tugasnya sebagaimana disebut dalam pasal 39 UU No 20/2003 yaitu merencanakan pembelajaran,melaksanakan pembelajaran,menilai hasil pembelajaran,melakukan pembimbingan,melakukan pelatihan,melakukan penelitian dan melakukan pengabdian masyarakat.
3. Rendahnya Kesejahteraan Guru
Rendahnya kesejahteraan guru mempunyai peran dalam membuat rendahnya kualitas pendidikan Indonesia.Dengan pendapatan yang rendah,terang saja banyak guru terpaksa melakukan  pekerjaan  sampingan.Ada yang mengajar lagi di sekolah lain,memberi les pada sore hari,menjadi tukang ojek,pedagang mie rebus,pedagang buku/LKS,pedagang pulsa ponsel, dan sebagainya.
4. Rendahnya Prestasi Siswa
Dengan keadaan yang demikian itu (rendahnya sarana fisik,kualitas guru,dan kesejahteraan guru)pencapaian prestasi siswa pun menjadi tidak memuaskan.
Anak-anak Indonesia ternyata hanya mampu menguasai 30% dari materi bacaan dan ternyata mereka sulit sekali menjawab soal-soal berbentuk uraian yang memerlukan penalaran.Hal ini mungkin karena mereka sangat terbiasa menghafal dan mengerjakan soal pilihan ganda.
Selain itu, hasil studi The Third International Mathematic and Science Study-Repeat-TIMSS-R,1999(IEA,1999)memperlihatkan bahwa,diantara 38 negara peserta,prestasi siswa SLTP kelas 2 Indonesia berada pada urutan ke-32 untuk IPA,ke-34 untuk matematika.Dalam dunia pendidikan tinggi menurut majalah Asia Week dari 77 universitas yang di survey di asia pasifik ternyata 4 universitas terbaik di Indonesia hanya mampu menempati peringkat ke-61,ke-68,ke-73,dank e-75.
5. Kurangnya Pemerataan Kesempatan Pendidikan
Kesempatan memperoleh pendidikan masih terbatas  pada tingkat sekolah dasar. Data Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dan Direktorat Jendral Binbaga Departemen  Agama tahun 2000 menunjukkan angka partisipasi murni (AMP) untuk anak usia SD pada tahun 1999 mencapai 94,4% (28,3 juta siswa) pencapaian APM ini termasuk kategori tinggi . angka partisipasi murni pendidikan di SLTPmasih rendah yaitu 54,8% (9,4 juta siswa).
6.Rendahnya Relevansi Pendidikan dengan kebutuhan
hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya lulusan yang menganggur . data BAPPENAS (1996) yang dikumpulkan sejak tahun 1990 menunjukkan angka pengangguran terbuka yang dihadapi oleh lulusa SMU sebesar 25,47 %,Diploma / SO sebesar 27,5% dan PT sebesar 36,6%.
Adanya ketidak serasian antara hasil pendidikan dan kebutuhan dunia kerja ini disebabkan kurikulum yang materinya kurang fungsional terhadap keterampilan yang dibutuhkan ketika peserta didik memasuki dunia kerja.
7. Mahalnya biaya  pendidikan
Pendidikan bermutu itu mahal, kalimat ini yang sering muncul untuk menjustifikasi mahalnya biaya yang harus dikeluarkan  masyarakat untuk mengenyam bangku pendidikan. Mahalnya biaya pendidikan dari tamn kanak – kanak (TK) hingga perguruan tinggi (PT) membuat masyarakat miskin  tidak boleh sekolah.

B. STATUS PENDIDIKAN
Pendidikan  secara garis besar kemajuan pendidikan tidak lepas dari mutu  pendidikan ya.pendidikan sangat  penting  khususnya dalam  mensejahterakan bangsa dan Negara. Sutau konsekuensi yang besar bila menitik beratkan pendidikan sebagai benteng pertahanan masa depan. Sehingga ancaman zaman bisa ter-elakkan.
Seain itu juga Selain Status Pendidikan yang dianggap rendah, Lapangan Kerjapun terbatas dan Gaji yang di terima bahkan relative  minim. Perbedaan Pendidikan yang didapat dan Biaya yang di keluarkan untuk kuliah, mungkin jadi Tolak Ukur antara Pendidikan SMU dan Sarjana.
Tetaplah terus Berjuang untuk mendapatkan Hak Bekerja. Dan Bekerjalah dengan baik Walau dengan keterbatasan Pendidikan, Karena tidak menutup kemungkinan Lulusan SMU pun bisa sesukses Sarjana.Gali potensi diri untuk dijadikan Nilai lebih, pandai-pandailah Belajar dan Bergaul. Serta perbanyaklah Membaca untuk menambah Wawasan dan Pengetahuan dan Bekali Diri dengan Kursus-kursus yang bermanfaat.
DAFTAR PUSTAKA

Pidarta, prof. Dr. Made.2004. manajemen pendidikan indonesia  Jakarta : PT Rineka cipta.
Sayapbarat.wordpress.com/2007/08/29/ masalah–pendidikan–di-Indonesia.

Telah dibaca sebanyak 517 kali