Archive for the ‘M. Irham Thoriq’ Category

Hal berbeda di lakukan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia dalam menyambut ramadhan, pada hari sabtu (20/8) dini hari PMII UIN Malang melakukan Sahur on The road atau sahur bersama dengan para anak jalanan. Berkerjasama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat Griya Baca, PMII membagikan sekitar seratus lima puluh bungkus plastik yang di dalamnya ada uang tunai, baju bekas dan makanan untuk sahur.

Read the rest of this entry »
Perhelatan pemilu mahasiswa pada taggal 26 April 2011 kembali ricuh di Universitas Islam Negeri (UIN) Malang. Pemilu yang semula akan di laksanakan 16 maret di undur karena ricuh menjadi pada 26 april kemaren. Pemilu yang di helat di depan gedung Student Center ricuh untuk kedua kalinya.
Berawal dari Partai Pencerahan (PP) yang menganggap adanya pelanggaran konstitusi pada pemilu kali ini. Meskipun pihak BP2R ssebagai panitia pemilu telah menerangkan bahwa pemilu kali ini adalah legal sesuai surat edaran pembantu Rektor 3 yang menyatakan pemilu di undur selambat-lambatnya 2 bulan.
Namun pihak PP yang dari awal berindikasi untuk menggagalkan pemilu melakukan premanisme di kampus islam ini. Pihak PP menyerang panitia pemilu yang mengurusi pemilu mahasiswa tersebut. Layaknya preman kampung mereka menyerang secara membabi buta kepada pantia pemilu.
Tidak hanya menyerang, pihak PP yang di komandoi samawi inipun membakar kotak dan kertas suara. Pengamatan dilapangan dari berbagai sumber, bahwa pihak PP berniat untuk menggagalkan pemilu serta akan mentiadakan Republik Mahasiswa di UIN Malang selama setahun ini. Ada indikasi bahwa pihak PP takut untuk kalah yang dari awal memang kalah masa dari Partai Keadilan Demokrasi Mahasiswa (PKDM).
Kericuhan yang dibuat Partai Pencerahan tentunya sangat di sesalkan oleh kalangan civitas akademika UIN Malang. Salah satunya adalah Abdul Halim, “ini adalah tindakan tidak dewasa yang dilakukan oleh mahasiswa yang seharusnya menjadi teladan sebagai agent perubahan” ungkap mahasiswa psikologi ini.
Tidak hanya itu, akibat kejadian tersebut menjadikan kampus tidak kondusif dan proses belajar mengajar terganggu. Dari masing-masing partai melakukan demonstrasi yang mengakibatkan suasana pembelajaran terganggu serta tidak kondusif. Hal senada juga di sampaikan oleh Samsul, “Ini pemilu yang sarat akan premanisme, masak preman kayak gitu bisa mengobrak ngabrik kampus, pihak birokrasi harus menempuh tindakan hukum bagi para preman tersebut” Ungkap mahasiswa berambut cepak ini.
Kerugian akibat kerusuhan ini juga di alami oleh Hasyim Anwari sebagai panitia, dia mengalami luka-luka karena di hajar oleh pihak PP. Hasyim Anwari di gebuki sasaat setelah mengamankan kotak suara yang hendak di bakar oleh pengurus Partai Pencerahan. Malamnya, Hasyim Anwari melakukan Fisum untuk kemudian akan di tindak secara hukum oleh pihak berwajib dan melacak pengurus Partai Pencerahan yang melakukan pemukulan.

khir-akhir ini kita diributkan isu reshuffle kabinet. Isu ini di keluarkan presiden tentang perlu adanya evaluasi dari menteri dari partai koalisi yang “nakal”. Partai golkar dan PKS disinilah yang dimaksud, akibat tidak sejalan dengan partai demokrat sebagai partai penguasa. Mulai dari kasus century sampai kasus pernyataan hak angket kasus perpajakan.
Melalui pidatonya yang menggebu-gebu, Presiden mengungkapkan perlu adanya evalusi bagi kedua partai tersebut karena telah melanggar perjanjian koalisi yang di sepakati bersama. Hal inilah yang memicu perdebatan publik tentang reshuffle karena yang menyatakan adalah presiden.
Di lain sisi, Isu reshuffle tentunya bisa menjawab mistrust rakyat kepada pemerintah. Ketidak percayaan inilah yang sedang melanda dinamika politik kita. Arena politik hanya sebagai barter kekuasaan dan sebagai pangguang hiburan. Sebagaimana hiburan, rakyat hanya di pertontonkan sandiwara para politisi yang jauh dalam rangka mensejahterakan rakyat.
Masukan reshuffle kabinet pertama kali dilontarkan oleh partai oposisi PDIP, melalui ketua DPP Puan Maharani. Dengan kritik berbahasa persahabatan, puan menganjurkan pemerintah merhesuffle kabinet bagi menteri yang kurang optimal, terutama di sektor riil,industry dan ketenagakerjaan.
Reshuffle yang merupakan hak preogratif presiden tentunya memberi keleluasaan bagi presiden untuk menggunakan haknya untuk mengevaluasi kabinet yang kurang optimal. Pemerintahan telah berjalan satu tahun setengah tentunya sudah waktunya untuk menilai kinerja para kabinetnya yang kurang optimal.
Namun, yang melanda pemerintahan sekarang adalah bagaimana kalkulasi politik jauh lebih penting dari pada kebaikan rakyat. Perhitungan politik dalam posisi koalisi tentu sangat diperhitungkan. Apalagi, golkar yang pada mulanya akan keluar dari koalisi meskipun pada akhirnya tidak jadi keluar. Tentunya kalkulasi politik lebih dipertimbangkan oleh presiden dari pada kinerja baik-buruknya kabinet.
Kepentingan pribadi dan golongan inilah yang perlu dihilangkan untuk membangun pemerintahan yang kredibel. Memaknai reshuffle sebagai ajang evaluasi tentunya lebih penting dari pada sebagai barter kekuasaan demi mengamankan posisi masing-masing. Ketika kepentingan tersebut dihilangkan, penulis yakin pemerintahan yang berbasis kepada rakyat kecil akan lebih tercapai.
Saat ini adalah momentum presiden untuk memperbaiki citranya dengan menggunakan reshuffle untuk kepentingan rakyat. Sebelum meresufle, Presiden tentunya sudah banyak mengkaji dari evaluasi Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4), staf ahli, biro kepresidenan, dan Badan Intelijen Negara (BIN) dalam menilai kinerja kabinetnya yang baik dan buruk. Kedekatan pribadi dan partai dalam hal pemilihan menteri baru harus dikesampingkan demi terpilih kabinet yang benar-benar berkualitas. yang pada intinya, reshuffle adalah murni demi kesejahteraan rakyat, bukan hanya ritual tahunan dan tambal sulam kekuasaan.
Baik dari kalangan professional maupun partai politik, demi kesejahteraan rakyat yang kian tak percaya dengan dinamika politik, reshuffle kabinet patut dilaksanakan. Tanpa niat tersebut, reshuffle tidak akan berdampak besar bagi kemajuan bangsa ini.


Edan, kata yang erat bagi warga malang. Julukan Arema juga singa edan, tentu maknanya bukan seperti yang sering kita kaji secara psikologi. Bukan karena singa itu gila dan tidak waras. Edan ala Arema tentu bermakna lain, edan bermakna semangat dan keedanan Arema dalam membentai musuh.
Edan secara psikologi sering di istilahkan dengan hal yang tak normal, orang yang sering berbicara sendiri juga di sebut edan. Mereka yang nyeleneh juga terkadang di sebut edan. Bahkan Gus Dur oleh sebagian kelompok di katakan kyai edan karena kebedaannya. Nabi Muhammad pun pernah di sangka edan oleh kaum jahiliyah ketika beliau mengaku telah bertemu tuhan dan pergi ke langit ketujuh dalam waktu semalam. Jadi, penjustifikasian makna edan sangatlah subyektif dan edan secara singkat bisa disebabkan karena kebedaan.
Ronggo Warsito, seorang santri dan penyair pernah memakai terminologi edan. Menurut beliau, zaman saat ini adalah zaman edan, artiannya yang tidak ikut edan tidak akan kebagian. Zaman yang berbeda inilah yang mencoba ditafsirkan oleh beliau, zaman yang ketika Ideologi dan nilai-nilai kebaikan dikesampingkan. Semua di anggap tiada, asalkan sudah edan karena hanya dengan edan mereka akan kebagian.
Berbicara kebagian, banyak orang yang pengen kebagian. Hanya demi kebagian pulalah seseorang sering bertikai. Ada yang kepingin kebagian proyek, kucuran dana gelap, kecipratan hasil korupsi dan kebagian yang lain. Hanya yang edanlah yang akan kebagian.
Gayus Tambunan dan kroninya tidak akan kebagian kekayaan begitu besar andai tidak ikut edan. Kyai pun banyak yang ikutan edan, ada yang demi membela istana, mengedankan diri dengan mengcounter para tokoh agama yang menyuarakan anti kebohongan. Andai tidak ikut edan pula, kampus kita tidak akan bertitel ISO meskipun realitasnya pelayanan dan kualitasnya biasa aja, praktek edan di praktekkan demi sebuah title ISO.
Ronggo Warsito melanjutkan terminologinya, seberuntung orang yang ikut edan namun lebih beruntuang mereka yang tetap berpegang terhadap ideologi dan nilai-nilai. Kalau PMII, kita berpegang teguh akan nilai ke islaman kita. Berpegang pada nilai dasar pergerakan kita. Hanya dengan itulah kita terlepas dari keedanan yang lagi ngetren di bangsa ini.
Mahasiswa sebagai manifetasi pergerakan, dari sinilah berbagai bentuk perubahan terjadi. Transformasi social yang dilakukan tentunya harus berpegang teguh pada ideologi sebagai insan pergerakan. Hanya dengan berpegang teguh, kita tidak akan ikutan edan.
Ketika tokoh lintas agama menyerukan anti kebohongan, layakya organisasi kemahasiswaan juga menyerukan anti keedanan. Kalau bohongpun namun masih edan pasti akan tetap kacau. Orang berbohong bisa saja karena kebaikan dan belum tentu merugikan sesama, namun ketika praktek ke edanan ala Ronggo Warsito itu dilakukan maka segenap elemen bangsa ini akan ikut rugi. Ketika semua edan, hanya kepada mahasiswalah harapan untuk bisa mengartikan edan layaknya Arema, yakni edan yang penuh semangat, edan untuk menang dalam sebuah kompetisi, bukan edan menikam dan merugikan sesama.


Gerakan untuk menanggulangi umat agama yang anarkis layaknya sering dilakukan terutama bagi organisasi keagamaan yang mengaku moderat. Di ketahui, akhir-akhir ini kita dipertontonkan banyak kejadian kekerasan antar agama. Baik itu antar agama seperti islam-kristen, maupun sakte agama seperti ahmadiyah dan organisasi islam garis keras.
Untuk menaggulangi, Lakspedam NU kota Malang pada tanggal 25-27 Februari kemaren mengadakan pelatihan harakah nahdliyah. Bertempat di gedung Aswaja center Bumiaji Kota Batu, pelatihan gerakan ini di ikuti oleh berbagai utusan kecamatan dibawah naungan NU kota malang.
Tujuan utama pelatihan ini adalah mensinergikan gerakan arus bawah yang meliputi Majelis Perwakilan Cabang di lingkungan kota malang. Selain itu, maraknya gerakan islam radikal sebagai besar alasan kegiatan ini diadakan. NU sebagai organisasi social keagamaan yang moderat mempunyai kewajiban untuk turut serta mempunyai andil besar dalam perdamaian di bangsa ini.
Pelatihan selama tiga hari ini, banyak memberi keterampilan bagi kader-kader NU sebagai peserta. Di antara pemateri tersebut adalah Prof.Kacung Maridjan, guru besar Unair ini menyatakan bahwa NU dalam melaksanakan gerakannya haruslah sebagai organisasi mandiri. Dimana gerakan ekonomi berbasis agama penting sebagai alternative gerakan NU terutama dalam bidang agama.
Selain itu, dijelaskan juga silsilah munculnya gerakan islam radikal di nusantara. Munculnya gerakan islam redikal ini tentu tidak serta merta ada di Indonesia. Berbeda dengan wali songo yang melakukan akulturasi dan asimilasi budaya dalam melakukan penyebaran islam. Gerakan islam radikal banyak dipengaruhi oleh gerakan islam radikal yang ada di timur tengah. Diantaranya adalah Ikhwanul Muslimin yang ada di mesir, organisasi ini turut menjadi inspiratif dan pemicu munculnya gerakan mainstream yang ada di Indonesia semacam Hisbut Tahrir Indonesia.
Peserta juga banyak di beri keterampilan terutama dalam melakukan perangkat gerakan seprti analisis SWOT, ansos serta permasalahan yang muncul di berbagai wilayah. Keterampilan mencari dan memacahkan masalah ini dirasa penting dalam membuat sebuah gerakan arus bawah terutama dalam menjadikian kerukuanan antar umat beragama.
Tidak hanya itu, pelatihan ini juga di akhiri dengan dialog antar umat beragama di lingkungan kota malang. Dialog ini juga dilatar belakangi adanya FUB (Forum Umat Beragama) di kota malang. Dengan ada forum serta dialog ini diharapkan peserta pelatihan serta para umat beragama mempunyai kesedaran akan pentingnya kerukunan dan silaturahmi antar umat beragama.
Tentunya, pelatihan serta dialog umat beragama ini tidak hanya bisa di lakukan oleh NU saja. Namun bisa juga dilakuakan organisasi Civil Society yang peduli akan kedamian dan ketentraman di masyarakat. Semoga dengan adanya pelatihan ini umat beragam semakin tambah dewasa dan cerdas dalam bermasyarakat serta tidak mudah terprovokasi yang mengakibatkan konflik horizontal berkepanjangan.
Pada setiap peradaban, selalu memunculkan tokohnya. Peradaban muncul tidaklah secara natural layaknya hukum alam.dalam setiap peradaban, ada yang kelam dan ada yang gemilang. Itulah sejarah selalu memiliki polemik dan cerita tersendiri dalam setiap pergolakannya.
Kecemerlangan peradaban yunani, mungkin tidaklah bisa terjadi tanpa pemikir besar seperti Plato, socrates, aristoteles,thales dan yang lain. Para pemikir besar tersebutlah yang mewarnai kegemilangan peradaban yunani yang menjadi pusat ilmu, etika dan juga kebudayaan.
Merekalah pelaku sajarah, mengubah dunia hanya dengan pemikirannya. Tidak puas dengan yang di lihat, dirasa, dan di dengar. Mereka selalu kritis dan menyangsikan segala realitas. Itulah filsafat, karnanya pula dunia bisa berperadaban, tidak mengekor pada dogma yang orang awam mudah terkelabuhi.
Pada keemasan islam, kita mengenal Ibnu Rusdy, Ibnu Khaldun, Ibnu Taimiyah dan yang lain. Kecemerlangan para beliau, seakan mengubah paradigma bahwa islam hanya dekat dengan surga, islam menguasai peradaban dan sebagai pusat dari pengetahuan. Semua mempunyai tokoh kuncinya sendiri dalam setiap masa.
Filsafat sebagai mother of science merupakan entitas yang penting dalam membentuk peradaban tersebut. Dengannya, orang bisa berpikir bebas, kritis dan juga memikirkan yang orang biasa tidak terpikirkan. Peradaban yang dinamis dan tercerahkan inilah yang mencoba kita bangun dengan di adakannya sekolah filsafat ini.
Out Put dari sekolah ini adalah terciptanya “tokoh kunci” dalam membangun perdaban yang ilmiah dan kritis khususnya di lingkungan organisasi PMII. dengan rencana tinda lanjut membentuk komunitas pecinta filsafat dan pengetahuan lainnya, harapannya bisa membuat hijrah dari budaya jahiliyah menuju lingkungan organisasi yang terbudayakan kritis terhadap fenomena sosial, politik,ekonomi dan kebudayaan.
Sasaran peserta adalah mereka yang mempunyai i’itikad mengubah dirinya sendiri dan lingkungan organisasi kedalam lingkungan ilmiah,filosifis dan kritis. Peserta adalah anggota,kader,warga dan pengurus Rayon PMII Al-Adawiyah dan juga PMII Sunan Ampel Malang. Peserta selain dari Rayon Al-Adawiyah dibataskan dua delegasi. Dan pendaftaran akan ditutup ketika sudah mencapai 35 orang. So...., Cepat daftarkan diri anda di acara dan kesempatan langka ini....
Adapun informasi teknis sebagi berikut:
Nama Kegiatan : Sekolah Filsafat
Tema Kegiatan : BERHIJRAH DARI BUDAYA JAHILIYAH
Penyelenggara : Departemen Intelektual PMII Rayon “Penakluk”Al Adawiyah
Hari/tanggal acara : Jum’at-minggu, 18-20 Maret 2011
Tempat : Gedung Sekolah Demokrasi Kota Batu.
Pra-Sekolah Filsafat : 12-13 Maret 2011.
Konstibusi Peserta : Rp. 40.000
Fasilitas :Alat Tulis, Makan Selama 3 hari, Penginapan yang nyaman, Dan ilmu yang mencarahkan tentang filsafat oleh filsuf yang handal.

Nb: Untuk konfirmasi pendaftaran dan informasi lebih lanjut silakan hubungi No HP berikut
Nur Dianah (Ketua Pelaksana) : 08563188948
Irham Thoriq (Co Dept Intelektual) : 085755546833

Tahun baru yang lalu, saya beserta sahabat merayakan tahun baru di pantai Prigi di Trenggalek. Kita semuanya yang kuliah di malang, berangkat ke pantai dari rumah alfan teman saya di Trenggalek. Dalam perjalanan berangkat, iqbal dan sigit ditanyain teman saya yang ada dimalang, mereka berdua mengaku pergi ke jogjakarta dengan kereta api.
Sebelum berangkat dari rumah alfan. Ibuku telepon, supaya berhati-hati karena malam tahun baru ramai. Beliau bertanya tentang saya yang tahun baru kemana. Dengan nada santai dan berbohong karena takut dimarahin soalnya tidak izin saya mengaku di malang saja tidak kemana-mana.
Kamipun berangkat dengan mobil yang di bawa alfan. Perjalanan lancar-lancar saja, tidak ada kendalan dari mobil dan macetnya perjalanan. Setelah nyampe’ pantai kitapun merayakan tahun baru dipinggiran pantai prigi dengan main kartu dan makan-makan sepuasnya.
Ke-esokan harinya, kitapun balik dengan rencana mau mengunjungi rumah sahabat yang ada di nganjuk. Sepintas perjalanan lancar, tidak ada kendala. Di mobil kitapun bensanda gurau. Tidak jauh dari pantai, terasa mobil yang kita naiki bergoyang, Bergoyang seperti ada gempa bumi. Bruakk.. Terdengar dari telinga saya. Mobilpun bergoyang seakan mau terbalik, seketika alfan meminggirkan mobil ketepi jalan.
Kita turun, tidak disangka, ban kiri belakang mobil kita cepot. Ban mobil inipun cepot mengenai sepada motor pengguna jalan. Tak lama kemudian, orang yang terkena Ban mobil, melihat body sepeda motornya, setelah dilihat tidak ada kerusakan dan tidak ada lecet. Orang diseberang jalan tersebut menghampiri kami, dengan berpura-pura pincang, orang tersebut meminta kita uang untuk mengobati kakinya yang terkena ban. Padahal sepengatahuan warga sekitar, ban tidak mengenai kaki orang tersebut namun hanya mengenai sepeda motor bagian depan.
Setelah melihat sepeda motor tidak mengalami kerusakan, orang tersebut menarget kita uang. Pertamanya minta seratus ribu, kita bilang tidak ada kalu segitu, selanjutnya orang tersebut meminta lima puluh ribu dan kita masih tidak punya uang untuk bayar segitu banyaknya. Uang kita tinggal tiga puluh lima ribu, dan inilah yang kita kasihkan ke orang tersebut. Meskipun tahu kita ditarget dan dibohongi tapi tetap mengasihkan uang tersebut dari pada nanti berurusan dengan polisi.
Selanjutnya, karena pembenahan mobil membutuhkan waktu lama dan mencari bengkel tidak menemukan disekitar daerah tersebut. Kitapun harus mengambil alat kerumahnya alfan, karena alat dongkraknya alfan tidak membawa. Dan dengan i’itikad baik, orang yang rumahnya samping kita kecelakaan meminjamkan kita sepeda motor untuk mengambil alat.
Pemilik rumah ini sangat baik, selain ramah dengan kita yang terkena musibah, kami yang menunggu pembenahan dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore inipun memberi snack yang mengetahui bahwa kita kelaparan. Setelah selesai pembenahan, kamipun pamit pulang. Dan kami membelikan sesuatu untuk imbalan telah mmembantu kami dengan snacknya dan pinjeman motornya. Namun dengan senyum lebar, pemilik rumah tersebut menolak pemberian kita sambil berkata ”saya juga pernah mahasiswa, dan kewajiban saya sesama manusia adalah membantu yang terkena musibah dan membutuhkan” ungkapnya dengan nada sumringah.



Hikmah :
1. Kebohongan kepada orang tua dan teman tidak boleh karena akan menyusahkan diri kita sendiri.
2. Dalam dunia ini, selain ada orang jahat namun juga ada orang yang baik.

# Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Cermin Berhikmah di BlogCamp

Membicarakan sosialisme sangatlah kurang lengkap bila tanpa membicarakan Karl Mark. Mark merupakan sosok controversial sekaligus inspiratif bagi para tokoh sosialis dan komunis di dunia ini. Terjadinya gerakan komunisme di Indonesia, Vietnam dan Uni Sovyet sangatlah dipengaruhi oleh pemikiran filsuf asal german ini.
Karl Mark lahir di kota Trier Kota perbatasan Jerman Barat pada tahun 1818. Lahir dari keluarga Yahudi meskipun ayahnya kemudian pindah agama Kristen Protestan. Kepindahan agama sang ayah ini banyak disesabkan alasan agar diterima sebagai pegawai notaris karena kota prusia tempat ayah Mark kerja berhaluan protestan, hal inilah yang juga menjadi faktor Mark tidak minat agama.
Latar belakang sang ayah yang seorang notaris, kemudian ayah Mark memintanya masuk di fakultas hukum, namun Mark terpaksa masuk fakultas hukum meskipun tidak minat karena Mark lebih tertarik pada syair. Kemudian, Mark pindah ke berlin tanpa menunggu izin sang ayah dan ditempat inilah Mark mulai belajar filsafat.
Teori Kelas Karl Mark
Dalam segenap teori Mark, sangat simple tentang apa yang dicita-citakan Mark, harapan Mark bahwa dalam masyarakat tidak ada lagi kesenjangan kelas, dalam artian semuanya sama. Tidak ada yang kuat-lemah, majikan-buruh, kaya-miskin dan kesenjangan kelas lainnya.
Dalam analisis Mark, kita bisa memahami sejarah apabila kita sudah paham akan kelas sosial yang ada. Kelas sosial tersebut meliputi tentang kelas yang menguasai dan yang dikuasai. Landasan inilah yang menjadi tolak ukur kritik Mark terhadap masyarakat kapitalis.
Menurut Mark kelas sosial tersebut terdapat tiga macam, hal ini berbeda dengan anggapan banyak orang yang hanya membagi menjadi dua kelas. Ketiga kelas sosial tersebut adalah, pertama, kaum buruh yakni meraka yang hidup karena upah. Kedua, kaum pemilik modal yakni mereka yang mempekerjakan kaum buruh dan hidup karena laba. Ketiga, para tuan tanah yakni mereka yang mendapatkan uang dari hasil tanah yang dikerjakan oleh kaum buruh. Dikarenakan dalam pembahasan selanjutnya tidak akan dibahas tuan tanah dalam membuat keterasingan kepada kaum buruh dan tuan tanah akan di sejajarkan dengan pemilik modal maka yang akan dibahas lebih lanjut adalah dua kategori pertama.
Yang membedakan kelas atas (borjuis) dengan kelas bawah (proletar) adalah kalau kelas atas mereka memiliki modal dan mempunyai alat produksi. Sedangkan kelas bawah meraka yang hanya hidup dengan menjadi buruh dan bekerja kepada sang pemilik modal. Para pekerja hanya diberi pekerjaan demi memberi untung bagi para pemilik modal yang tidak bekerja dan mendapatkan hasil dari para pekerjaan kaum buruh, inilah yang biasanya disebut bahwa hubungan antara kelas atas dan bawah adalah hubungan yang ekspoitatif, kelas atas menghisap kelas bawah.
Hubungan transaksional yang terjadi antara kelas atas dan bawah tidak hanya dilambangkan melalui menifestasi dari kelas atas dan bawah. Namun juga kepentingan yang membuat kelas atas dan bawah tidak bisa damai dan membuat kelas bawah teralienasi dari lingkungan kerja, alat produksi, dan hasil produksi.
Kepentingan kelas juga didukung oleh apparatus negara yang merupakan negara kelas yakni negara yang dikuasai oleh penguasa kelas ekonomi. Selanjutnya, para pemilik modal ingin mendapat laba sebanyak-banyaknya dan para pekerja harus menghasilkan produksi demi upah yang banyak. Para pekerja merasa terasing inipun cendrung bersifat progresif dan revolusioner yang didorong kesadaran dan moralitas pekerja, hal inilah yang kemudian akan terjadi cita-cita mark bahwa para buruh yang tidak tahan di ekspolitasi mengambil jalan revolusi yang kemudian tercapailah masyarakat sosialis yakni masyarakat tanpa kelas dan tanpa kepemilikan pribadi.
Alienasi
Dalam masyrakat kapitalisme, manusia ditakdirkan harus dan senangtiasa bekerja. Pekerjaan merupakan kebutuhan primer untuk memenuhi kebutuhan. Pekerja yang merupakan kebutuhan primer seharusnya menjadi hal yang menyenangkan dan bersifat kepuasaan. Namun yang terjadi di masyarakat kapitalisme industry, para buruh yang bekerja tidak lagi dengan sesuka hati, melainkan terpaksa sebagai sarana untuk hidup.
Keterasingan sang buruh inilah yang sering disebut Mark sebagai alienasi. Alienasi ini banyak bentuknya. Pertama yakni alienasi terhadap dirinya sendiri, para buruh tidak mempunyai penghargaan diri yang tinggi akibat hasil produksinya tidak menjadi bahan kebanggaan sebagai sebuah hasil dan karya dari yang dikerjakan. Hal itulah yang mengakibatkan sang buruh terasing dari diri sendirinya. Para buruh dijadikan seperti mesin yang membuat mereka terasing dari diri sendirinya.
Selanjutnya, Mark menyebutkan bahwa para proletar merasa terasing dari orang lain. Mark menyebutkan setelah terasing dari diri sendirnya, para buruh pun terasing dari lingkungan kerjanya yang merupakan manifestasi dari terasing dari orang lain. Keterasingan tersebut disebabkan adanya hak milik pribadi dan kelas sosial yang mengakibatkan sesama buruh saling bekerja untuk menghasilkan sebanyak-banyaknya produksi dan terasing dari lingkungan sekitarnya.
Dalam menyikapi keterasingan kerja inilah Mark menyebutkan bahwa solusinya adalah penghapusan hak milik pribadi. Kaum buruh bekerja hanya untuk mendapatkan uang untuk kelangsungan hidup. Semuanya saling bersaing menghasilkan uang sebanyak-banyaknya. Dengan penghapusan hak milik pribadi maka seseorang tidak lagi tergantung pada majikan dan tidak harus terpaksa untuk bekerja lagi karena sudah tidak ada yang menjadi majikan dan babu.
Selanjtnya, Mark membedakan tiga tahap manusia,. Tahap pertama adalah masyarakat purba yakni sebagai pembagian pekerjaan dimulai dan yang terjadi adalah masyarakat berpindah-pindah untuk cari makan. Tahap kedua, yang masih berkelanjtan sampai sekarang adalah tahap pembagian kerja yakni tahap hak milik pribadi dan tahap keterasingan bagi kaum pekerja. Tahap ketiga, yang juga cita-cita Mark yakni masyarakat yang bebas dengan ditandai dengan tidak adanya hak milik pribadi, yang inilah mimpi beser Mark untuk menciptakan masyarakat egaliter tanpa kelas sosial.
Cita-cita Sosialisme
Seperti di tegaskan Theimer bahwa masyarakat sosialisme adalah tidak ada kepemilikan pribadi yang ada hanyalah kepemilikan komunal. Yakni kepemilikan yang tidak individualis. Dalam pandangan cita-cita Mark bahwa kepemilikan semuanya di administrasikan kepada Negara. Dalam pandangan Mark, bahwa sosialisasi berarti adalah nasionalisasi asset pribadi kepada Negara. Namun ketika kaum kapitalis tidak lagi mempunyai ancaman, maka Negara kehilangan fungsinya dan selanjutnya pabrik-pabrik pun akan di urus oleh mereka yang bekerja secara langsung.
Ciri ciri masyarakat komunis menurut Mark adalah penghapusan milik pribadi atas alat-alat produksi, penghapusan kelas sosial, menghilangnya Negara dan penghapusan pembagian kerja. Namun ungkapan mark tersebut yang termanifestasi melalui teorinya masih menyisahkan banyak masalah. Masih bisa di dekonstruksi secara kritis dalam proses rasionalisasi pemikiran Mark. Bukan tanpa celah ketika hak milik di hapus, bukan tanpa celah juga ketika kaum proletar melakukan revolusi yang bisa jadi akan timbul borjuis-borjuis kecil muncul dari masyarakat proletar. Selanjutnya, silahkan berdialektika pengetahuan dan selamat berdiskusi.

AR inisialnya, Cau akrab ku memanggilnya. Orang yang selalu membuaku terkadang jengkel, sebel dan bahkan kangen. Lebaran Idul Adha ini tepat aku setahun mengenalnya. Tidak hanya mengenal, proses pendekatanpun sudah setahun lalu aku lakukan sebelum sekitar tiga bulan yang lalu kita jadian.
Makam Bung Karno Blitar, tempat bersejarah bagi kami. Disitulah aku bertemu dengannya dengan seksama meskipun sebelumnya pernah bertemu waktu orientasi Fakultas yang pada waktu itu aku menjadi pendampingnya. Namun aku tidak tahu bagaiman paras wajahnya.
Sebelum bertemu di tempat bersejarah itu, kami sudah sering sms-an dan saya telah melakukan pendekatan. Yang saya tahu, dia adalah anak dampinganku yang lahir di Banglades, selain itu saya kurang tahu. Wajahnyapun masih ingat-ingat lupa.
Dengan memakai baju agak besar, jubah biasanya orang bilang. Warnanya ping, kulihat dari kejauhan, dia sedang bercakap dengan soni. Aku masih menuntaskan bacaan yasin di sebelah barat makam Bung Karno. Ku menghampirinya, wajahnya aneh kurasakan pada saat itu. tidak terlalu cantik, namun menawan. Setelah salaman, aku tak banyak mengungkapkan kata-kata. Gemetaran layaknya seorang ketemu cewek yang baru di dekatinnya.
Setelah tak lama bicara, kita melanjutkan perjalanan menuju rumahnya. Rumahnya tak jauh dari makam Bung Karno. Tak lebih dari lima belas menit dari makam. Kita berjalan keluar makam. Melewati pasar yang ada di utara makam, satu-satunya jalan yang harus ditempuh ketika mau keluar. Sambil barjalan, sesekali aku berada disampingnya meskipun aku membisu tak bisa ngomong apa-apa. Sambil melihat pernak-pernik, aku mencoba mengajaknya bicara, namun cueknya minta ampun. Cuek kayak artis di ajak ngobrol penggemarnya. Banyak di cuekin, akupun salah tingkah, defense mekanism ku tak berguna waktu itu, aku sering lepas kendali disampingnya.
Selain kita berdua, ada juga wanda yang menemaninya, Soni dan Iqbal. Tidak lama kemudian, Kami nyampek dirumahnya. Suasana dalam hatiku masih mencekam, mulutku seolah disolasi yang tak banyak mengungkapkan kata-kata. Kedua sahabatku, yang niatnya mencocokan kita pun tak banyak berbuat apa melihat aku malu tak bisa ngomong. Malah mereka yang banyak ngomong dengan cewek perwatakan cuek dan simple ini.
Perjalananpun dilanjutkan kerumah sahabatku alfan di Terenggalek. Di rumah alfan inilah, aku membuat puisi pertamaku untuknya. Dengan hati yang senang, habis melihat wajahnya dengan jelas, akupun bisa mengimajinasikan bidadariku ini dalam setiap rangkaian kata yang aku ketik di hand phone. Suasana hatiku semakin senang, ketika esok harinya dia mengucapkan senang terhadap puisinya dan bilang bagus. Semenjak itu pulalah aku sering mengirimkannya puisi, sampai-sampai puisiku disalin kedalam buku tulis. Meskipun pada akhirnya dia bilang tida suka dengan puisi yang isinya hanya gombal.
Lebaran Idul Adha mendatang, tepat satu tahun kisah kita berdua, tempat dimana kita bertemu untuk melihatmu dengan jelas, hati maupun fisik. Awal perjalanan panjang yang kita rajut dalam ruang dan waktu yang special. Hampir sepuluh bulan aku mendekatinya. Sejarah terpanjang dalam proses hidupku mengejar cinta. Mengejar cinta yang dimulai di hari Idhul Adha dimana para umat muslim ber kurban. Itulah mungkin yang hendak di ajarkan pada kita, bahwa hakikat cinta adalah kurban. Mulai dari kurban hati, perasaan dan kurban mood harus memahami orang lain dalam keadaan apapun.
Setahun lalu, pertemuan kita yang menjadi awal dari segalanya. Lebaran Idul Adha inipun kita masih bersama. Merajut cinta dalam tawa maupun tangis. Yang kuharap tidak hanya lebaran Idul Adha kali ini saja kita bersama, lebaran selanjutnya ku ingin masih bersamamu. Disetiap lebaran Idul Adha kita masih bersama, sampai kita tak bisa lagi merayakan lebaran itu. Bersama, sampai kita mati tak menemui Idul Adha lagi. Semoga…..
Countdown
    No dates present
Sekilas Info
Recent Forum Posts
    Partner

    Kontak
    Kantor YP Raudlatul Ulum

    Jl. Raya No 02 Ganjaran Gondanglegi Malang Jatim 65174

    Telp : 0341 - 879846 - 878244 - 878089

    email : info@raudlatul-ulum.com

    YM! :