Adalah KH. Idris, yang selanjutnya dikenal dengan nama KH. Bukhori, yang pertama kali merintis berdirinya pondok pesantren Raudlatul Ulum di desa Ganjaran Gondanglegi Malang, yang kemudian berkembang menjadi sebuah institusi pendidikan dengan nama Yayasan Pendidikan Raudlatul Ulum.
KH. Idris menjadi yatim sejak beliau masih kecil, kerena itulah pengasuhan dan pendidikannya bersama dengan saudara-saudaranya yang lain diambil alih oleh kakak tertua, KH. Syamsuddin.
Menginjak usia 16 tahun, Idris muda meninggalkan kampung halamannya untuk menuntut ilmu. Beliau pergi berguru pada KH. Jazuli, yang tinggal didesa Tetangoh, Pamekasan, Madura dan menetap disana selama tujuh bulan lamanya.
Pada tahun 1913 M, beliau melanjutkan pengembaraannya untuk menuntut ilmu kesebuah pondok pesantren yang terkenal saat itu, yaitu pondok pesantren yang diasuh oleh KH. Kholil (beliau dikenal sebagai pembawa kitab al Fiyah Ibnu Malik ke Indonesia) di Bangkalan, Madura. Pondok pesantren KH. Kholil Bangkala adalah pondok pesantren yang memiliki kualifikasi yang sangat bagus untuk saat itu, maka tak berlebihan jika dikatakan bahwa hampir semua ulama dipulau jawa pernah mngenyam manisnya ilmu di pondok pesantren tersebut. Idris muda menghabiskan waktunya mudanya dipondok pesantren tersebut, selam kurun waktu tujuh tahun.
Untuk melengkapi wawasan dibidang keagamaan, Idris muda melanjutkan pendidikannya di Makkah, Saudi Arabia. Disana beliau berguru pada Syeikh Hasan Al Yamany, bersama sang istri tercinta, Ny. Fatmah, putri seorang ulama besar didesa Ganjaran, Gondanglegi, Malang, yang beliau nikahi pada tahun 1921 M.
Setelah empat tahun lamanya beliau berguru dan belajar di Makkah, beliau pulang kembali ketanah air dan kemudian tinggal di desa Ganjaran Gondanglegi Malang. Dan sejak saat itu beliau merintis perjuangan menegakkan agama Islam melalui jalur pendidikan dan sosial kemasyarakatan.
Dalam lapangan pendidikan, beliau mendirikan pondok pesantren dengan nama Pondok Pesantren “Raudlatul Ulum” diseputar kediamannya dan membangun sebuah masjid (yang kemudian dikenal dengan nama masjid Asy-Syafi’iyah) pada tahun 1924 sebagai tindak lanjut pengembangan pondok pesantren yang beliau asuh. Dipondok pesantren yang beliau asuh itu, KH. Bukhori mengajarkan dasar-dasar keislaman kepada masyarakat sekitar seperti ilmu qira’ah dan ilmu tauhid, karena memang masyarakat desa Ganjaran ketika itu adalah masyarakat tidak mengenal nilai-nilai keislaman dengan baik. Melihat kenyataan ini, KH. Bukhori yang berasal dari sebuah desa terpencil di Madura, tepatnya desa Ombhul Sampang Madura, berkeinginan untuk mengarahkan masyarakat kejalan lurus yang diridloi oleh Allah SWT.
Pada awalnya pondok pesantren ini hanya memiliki sepuluh orang santri yang datang dari berbagi daerah dipulau Jawa, diatmbah dengan beberapa santri yang tidak menetap dipondok pesantern yang berasal dari desa Ganjaran dan desa-desa sekitarnya. Pada perkembangan selanjutnya, pengajaran tidak hanya dilakukan dipondok pesantren saja, tetapi juga dilakukan di masjid dengan menggunakan sistem klasikal. Hal ini dilakukan karena jumlah santri yang terus berkembang, dan untuk mengintensifkan materi pelajaran.
Untuk pengajaran di masjid ini KH. Bukhori dibantu oleh lima orang tenaga pengajar, mereka diantaranya KH. Yahya Syabrawi (menantu KH. Bukhori), KH. Mukhsin Yasin, Kh. Qaffal, KH. Abdul Hafidz dan KH. As’ad. Pengajaran dengan sistem ini berlangsung cukup lama, yaitu sejak tahun 1937 sampai akhir masa penjajahan Jepang. Setelah Jepang tersingkir dari bumi pertiwi ini, sistem pengajaran diubah dengan menjadi bentuk madrasah yang berlangsung hingga saat ini dengan tidak menghilangkan pelajaran-pelajaran agama klasik.
Sedangkan dalam bidang sosial kemasyarakatan beliau memelopori penyebaran Jam’iyah Nahdlatul Ulama di wilayah Malang bersama KH. Nahrawi, seorang ulama di Malang. Selain itu, KH. Bukhori juga berperan aktif dalam penyebaran Thariqat Naqsyabandiyah di daerah Malang Selatan, sehingga jumlah keanggotaan thariqat naqsyabandiyah didaerah ini telah mencapai kurang lebih 30.000 orang. Ketiga hal tersebut yang menjadi concern KH. Bukhori sampai beliau dipanggil kembali kehadlirat Allah SWT, pada tahun 1976 dan dimakamkan disamping masjid Asy-Syafi’iyah desa Ganjaran, Gondanglegi, Malang.