Archive for February, 2010

Bertepatan dengan hari senin, tanggal 22 Februari 2010, para guru beserta para siswi Madrasah Raudlatul Ulum Putri melaksanakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Peringatan ini dilaksanakan dalam suasana yang sederhana dan bersahaja, sebagai upaya untuk meneladani kehidupan Nabi Muhammad SAW. Pelaksanaan maulid ini diisi dengan pembacaan barzanji dan ceramah agama yang disampaikan oleh salah seorang guru. Acara yang digagas oleh OSIS Raudlatul Ulum Putri iniberlangsung dihalaman madrasah ini berlangsung dengan khidmat.

Berikut foto-foto pelaksanaan maulid di Madrasah Raudlatul Ulum Putri, silahkan klik pada foto-foto berikut untuk melihat tampilan yang lebih besar.
maulid 2010maulid 2010

maulid 2010maulid 2010

maulid 2010maulid 2010

maulid 2010maulid 2010

maulid 2010maulid 2010

Photobucket

OLIMPIADE MATEMATIKA TINGKAT SMP/MTS DAN SMA/SEDERAJAT

SE-JAWA TIMUR

1. RAYON MALANG

  1. a. TINGKAT SMP/MTs
NO NAMA SISWA NO BANGKU ASAL SEKOLAH NILAI RANKING
1 ALOYSIUS VERDI GONZAGA.B. A 015 SMP KOLESE SANTO YUSUF 2 54 1
2 ANDREAS DWI PUTRA .S. A 019 SMP KOLESE SANTO YUSUF 2 54 1
3 ACHMAD DAUHARI NAHARI A 133 SMP AN-NUR BULULAWANG 53 2
4 MUKHSIL ALY A 200 MTs NEGERI 3 MALANG 52 3
5 NAOVAL EL-FAIZ A 124 SMP NEGERI 3 MALANG 52 3
6 ANTONIO JUAN TANUJAYA A 025 SMP KOLES SANTO YUSUF 2 49 4
7 FATHIM MUZAYYANAH A 193 MTs NEGERI 3 MALANG 48 5
8 AJI PRASETIYO A 014 SMP PGRI 1 BUDURAN 45 6
9 AZELLA AFZA MERENDA A. F. A 032 SMP MA’ARIF 2 MALANG 45 6
10 DIMAS PAMBUDI A 042 SMP NEGERI 2 BATU 45 6
11 MINAKHUS SANIA A 114 MTS SURYA BUANA 45 6
12 AMAANI SABILI AMIN A 081 SMP AL-IZZAH BATU 42 7
13 IJMA GRUVIETA PUTRI A 082 MTs NEGERI MALANG 1 42 7
14 RIEZA RIZQY ALDA A 139 MTs. NEGERI TUMPANG 41 8
15 ZURIYAH NOVELINA A 201 MTs NURUL HUDA MALANG 40 9
16 M. ALI ZAENAL ABIDIN A 105 SMP PLUS FITYANI 38 10
17 AHMAD WAHYU AKBAR A 003 SMP AL-MA’ARIF SINGOSARI 36 11
18 ANDHIKA AKBAR HERRYZ A 017 SMP MA’ARIF 2 MALANG 35 12
19 FAIZ BAGASWARA A 060 SMP NEGERI 3 MALANG 35 12
20 HANIK ROY HANATUL A 078 MTs. NEGERI TUMPANG 35 12
21 ISMI FADILLA AINUR HUSNA A 088 SMP NEGERI 2 BATU 35 12
22 M. FAIZIN FEBRUANSYAH A 229 MTs RAUDLATUL ULUM 35 12
23 MUKHAMAD ROKHIM A 120 MTs WAHID HASYIM 02 DAU 35 12
24 MICHAEL IMANUEL A 113 SMP NEGERI 3 MALANG 33 13
25 AJENG MAHARANI PUTRI A 013 SMP NEGERI 3 MALANG 32 14
26 EKA INDAH NUR F A 048 SMPN 02 MALANG 32 14
27 M. BURHANUDDIN FADHLIR A 135 SMP AN-NUR BULULAWANG 32 14
28 RIZKI KURNIA MAHARDIKA A 143 MTs NEGERI MALANG 1 32 14
29 SYAHRUL FINDI ARDIANSYAH A 157 MTs N 1 MALANG 32 14

Hasil pencarian menuju artikel ini:

blog mts, www madrasah raudlatul ulum com, nama yang lolos semi final, mts raudlatul ulum, www raudlatul ulum com, madrasah raudlatul ulum, blog MTs Malang, SMP Fityani, sma/ma negeri malang, paket hari ilmiah, nuptk smp al-izzah batu jatim, nilai akreditasi SMP fityani, bolg smp pgri 1 buduran, mts raudlatul ulum blogspot, MTs Negeri Malang, Malangkab Dapodik org

Dalam kehidupan sehari-hari, kita tak bisa memisahkan diri dari dua kata, yakni bahasa dan kuasa. Bahasa merupakan alat komunikasi antar individu atau antar kelompok. Sedangkan kuasa adalah sebuah panggung dimana individu dengan individu ataupun kelompok dengan kelompok bertemu dan saling mempunyai kepentingan.
Kuasa tidak ubahnya sebuah panggung seni, dimana retorika bahasa digunakan. Layaknya panggung seni, permainan-permainan bahasa dipergunakan dengan terencana hanya untuk menghibur dan menguasai penontonnya. Dalam panggung seni tidak ada istilah membohongi penonton yang terpenting penonton bisa terhibur dan terkuasai oleh para seniman. Di dunia seni tidak ada istilahnya oposisi biner bahwa ini baik ini buruk, ini kotor dan ini bersih. Semuanya sama yakni semuanya hiburan tidak pandang itu baik maupun buruk.
Yang perlu diingat, menghibur dan menguasai dalam kuasa tentunya tidak lepas dari kepentingan pihak penguasa terhadap yang dikuasai. Yang terkuasai (rakyat) secara sengaja dibohongi, dikekang, dan dikungkung oleh penguasa hanya dengan permainan-permainan bahasa. Seperti seni dalam kuasa tidak ada istilahnya oposisi biner, dalam artian semua wacana diproduksi hanya untuk melegitimasi kepentingan penguasa dan tidak pandang wacana yang diproduksi tersebut baik maupun salah.
Dalam pandangan Bourdieu bahwa “kekuasaan kata” dalam hal ini bahasa hanya dijadikan alat oleh penguasa untuk memobilisasi demi melegitimasikan otoritasnya sebagai penguasa. “Kata” dalam prespektif Bourdieu mempunyai kuasa yang besar, dimana “kekusaan kata” seseorang dapat melegalkan yang ilegal dan membuat baik yang tidak baik.
Hal diatas membenarkan pemikiran Jurgen Habermas dalam bukunya Knowledge And Human Interest bahwa pengetahuan tidak akan terpisahkan dari kepentingan. Dalam kasus ini, bahasa sebagai pengetahuan tidak terlepaskan dari kepentingan penguasa untuk menguasai rakyatnya. Bahasa dalam kekuasaan dikeluarkan oleh sebuah lembaga hanya untuk diperdengarkan, dipercayai, dipatuhi, dijawab dan tidak boleh dipertanyakan karena bahasa tersebut layaknya bahasa tuhan yang mutlak kebenarannya.
Menganggap bahasa penguasa sebagai bahasa tuhan inilah yang perlu dikritisi. Karena bagaimana pun kebenaran tetaplah relatif sekalipun itu bahasa sang penguasa. Penguasa dalam pandangan penulis disini adalah lembaga-lembaga yang di dalamnya terdapat kuasa baik itu lembaga Negara, Kampus maupun yang lain. Lembaga-lembaga tersebut dalam bahasanya Bourdieu melegitimasikan kepentingan dengan bahasa yang dibungkus seolah-olah benar meskipun hal tersebut salah.
Kalau kita kaitkan dengan lembaga yang punya kekuasaan seperti Negara dan Kampus tentunya kalau kita kritisi ada peraturan yang kurang baik dibungkus dengan kata-kata halus dan mengakibatkan peraturan tersebut seolah-oleh benar. Ambil contoh, SBY tentu akan berkilah bahwa penertiban pedagang kaki lima (PKL) sebagai sebuah ketertiban tanpa memandang bahwa hal tersebut banyak merugikan rakyat kecil, peraturan tersebut dibungkus dengan bahasa lain untuk mencitrakan bahwa peraturan tersebut maslahat bagi semua rakyat. Begitu juga dengan rektor kita, pasti akan berkilah bahwa jam malam UKM adalah sebuah penjagaan bagi mahasiswa agar tidak melakukan asusila di UKM pada malam hari, rektor tentunya tidak akan membahas bahwa anak UKM banyak dirugikan akibat adanya jam malam.
Negara dan kampus dalam hal ini sama memiliki kuasa. Baik kuasa presiden kepada rakyat dan rektor kepada mahasiswa. Presiden dan rektor dalam bahasa psikologi sering menggunakan persona (topeng) dengan cara membungkus-bungkus bahasanya untuk merepresi dan membohongi yang dikuasai, layaknya seniman membohongi penonton hanya untuk menghibur para penonton.
Rakyat dan mahasiswa kalau tidak kritis terhadap kata-kata yang diproduksi oleh penguasa tentunya akan dibohongi layaknya anak kecil yang sering tertipu hanya akibat retorika bahasa. Mengingat petuah Habermas bahwa produksi wacana yang dilakukan seseorang tidak ada yang lepas dari kepentingan, maka waspadalah terhadap retorika bahasa oleh penguasa.

oleh : Irham Thoriq

tulisan pernah dimuat di Patriotik
Nama Samuel P Huntington identik dengan wacana clash of civilizations, meskipun wacana ini sudah diluncurkan oleh Bernard Lewis, melalui artikelnya berjudul The Roots of Muslim Rage di jurnal Atlantic Monthly, September 1990. Artikel Lewis ini merupakan persiapan untuk menentukan siapa ''musuh baru'' Barat pasca Perang Dingin.
Huntington kemudian mempopulerkan wacana Lewis. Pemikirannya tentang clash of civilizations khususnya antara Islam dengan Barat masih terus menjadi perbincangan luas. Bukan karena kualitas ilmiah wacana populer tersebut, tetapi karena banyaknya kecocokan antara pemikiran dan saran Huntington dengan perkembangan politik global saat ini. Khususnya, kebijakan politik Barat (terutama AS) terhadap Islam.
Buku terkenalnya, The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order, lebih ditujukan sebagai bahan nasihat bagi pengambil kebijakan politik Barat, khususnya AS, dan bukan untuk satu kajian ilmiah dalam ilmu sosial. Ia menulis dalam pengantar bukunya: This book is not intended to be a work of sosial science. It is instead meant to be an interpretation of the evolution of global politics after the Cold War. It aspires to present a framework, a paradigm, for viewing global politics that will be meaningful to scholars and useful to policymakers.
Kini, Huntington kembali meluncurkan buku barunya, berjudul Who Are We?: The Challenges to America's National Identity (New York: Simon&Schuster, 2004). Huntington adalah ilmuwan politik dari Harvard University yang juga dikenal sebagai penasihat politik kawakan Gedung Putih. Di samping pernah menduduki jabatan-jabatan prestisius di bidang akademis, Huntington juga aktif terlibat dalam perumusan kebijakan luar negeri AS. Tahun 1977-1978 ia bekerja di Gedung Putih sebagai Coordinator of Security Planning for the National Security Council.
Jika di dalam The Clash of Civilizations Huntington masih tidak terlalu tegas menyebut ''Islam'' sebagai alternatif musuh baru bagi Barat, maka dalam bukunya, Who Are We? ia menggunakan bahasa yang lebih lugas, bahwa musuh utama Barat pasca Perang Dingin adalah Islam yang ia tambah dengan predikat ''militan''. Namun, dari berbagai penjelasannya, definisi ''Islam militan'' melebar ke mana-mana, ke berbagai kelompok dan komunitas Islam, sehingga definisi itu menjadi kabur.
Dalam Who Are We? Huntington menempatkan satu sub-bab berjudul Militant Islam vs America, yang menekankan, bahwa saat ini, Islam militan telah menggantikan posisi Uni Soviet sebagai musuh utama AS. (This new war between militant Islam and America has many similarities to the Cold War). Jadi, Huntington memang menggunakan istilah ''perang'' (war) antara AS dengan Islam militan. Jika saat berperang dengan Uni Soviet yang memiliki persenjataan seimbang dengan AS, masih digunakan istilah ''Perang Dingin'' maka sekarang predikat ''Dingin'' sudah tidak ada lagi.
Penggunaan istilah war merupakan refleksi kebijakan baru politik AS sebagaimana disarankan Huntington. Saat berdialog dengan Anthony Giddden, pada late spring 2003, Huntington mendukung dilakukannya preemptive strike terhadap kaum militan. Nasihat Huntington memang telah dijalankan. Pada awal Juni 2002, doktrin preemptive strike (serangan dini) dan defensive intervention (intervensi defensif) secara resmi diumumkan. Melalui doktrin ofensifnya yang baru ini, AS telah mengubah secara radikal pola ''peperangan'' melawan ''musuh''. Sebelumnya, di masa Perang Dingin saat menghadapi komunis, AS menggunakan pola containtment (penangkalan) dan deterrence (penangkisan). Kini menghadapi musuh baru yang diberi nama Islam militan AS menggunakan pola preemptive strike dan defensive intervention.
Dari kasus doktrin preemptive strike ini tampak bagaimana pola pikir ''bahaya Islam'' atau ''ancaman Islam'' yang dikembangkan ilmuwan seperti Huntington, berjalan cukup efektif. Dengan doktrin itu, AS dapat melakukan berbagai serangan ke sasaran langsung, meskipun tanpa melalui persetujuan PBB. Pola pikir Huntington, bahwa ''Islam'' lebih berbahaya dari ''komunis'' juga tampak mewarnai kebijakan politik dan militer AS tersebut.
Tentu saja, yang penting kemudian adalah pendefinisian siapa yang dimaksud sebagai ''musuh baru yang lebih bahaya dari komunis?'' Dalam Who Are We? Huntington menyebut, yang disebut sebagai Islam militan bukan hanya Usamah bin Ladin atau kelompok Alqaidah. Tetapi, banyak kelompok lain yang bersifat negatif terhadap AS. Kata Huntington, sebagaimana dilakukan oleh Komunis Internasional dulu, kelompok-kelompok Islam militan melakukan protes dan demonstrasi damai, dan partai-partai Islam ikut bertanding dalam pemilihan umum. Mereka juga melakukan kerja-kerja amal sosial.
Dengan definisi dan penggambaran seperti itu, banyak kelompok Islam yang dimasukkan ke dalam kategori militan, dan layak diserang secara dini. Tanpa menampilkan sebab-sebab dan fakta yang komprehansif, misalnya, Huntington menulis, bahwa selama beberapa dekade terakhir, kaum Muslim memerangi kaum Protestan, Katolik, Kristen Ortodoks, Hindu, Yahudi, Budha, atau Cina. (In recent decades, Muslims have fought Protestan, Catholic, and Orthodox Christians, Hindus, Jews, Buddhists, and Han Chinese). Ia tidak menjelaskan, apakah dalam kasus-kasus itu kaum Muslim diperangi dan dizalimi, atau Muslim yang memerangi. Dalam menyinggung kasus Bosnia, misalnya, dia tidak memaparkan bagaimana kaum Muslim menjadi korban kebiadaban yang tiada tara di Bosnia. Dan ketika itu, AS dan sekutunya menjadi penonton yang baik pembasmian umat Muslim.
Samantha Power, dalam bukunya A Problem from Hell: America and The Age of Genocide (London: Flamingo, 2003), membongkar habis-habisan sikap tidak peduli AS terhadap praktik pembasmian umat manusia di berbagai tempat, termasuk di Bosnia. Buku ini memenangkan hadiah Pulitzer tahun 2003. Dalam kasus Bosnia, tulis Samantha, AS bukan hanya tidak berusaha menghentikan pembasmian etnis Muslim, tetapi malah memberi jalan kepada Serbia untuk melaksanakan kebiadaban mereka. (Along with its European allies, it maintained an arms embargo against the Bosnian Muslims from defending themselves). Untuk Bosnia, Samanta yang menjadi saksi berbagai kebiadaban Serbia di Bosnia, menulis judul Bosnia: No More than Witnesses at a Funeral.

Sebagaimana ilmuwan ''neo-orientalis'' lainnya, seperti Bernard Lewis, Huntington juga tidak mau melakukan kritik internal terhadap kebijakan AS yang imperialistik sebagaimana banyak dikritik oleh ilmuwan-ilmuwan seperti Noam Chomsky, Paul Findley, dan Edward Said. Ia tidak mengakui bahwa kebijakan AS yang membabi buta mendukung kekejaman dan penjajahan Israel adalah keliru dan menjadi satu sebab penting tumbuhnya ketidakpuasan dan kemarahan kaum Muslim dan umat manusia. Ia hanya mau menunjukkan bahwa Islam adalah potensi musuh besar dan bahaya bagi Barat dan AS khususnya. Ia menampilkan polling di sejumlah negeri Islam yang menunjukkan, sebagian besar kaum Muslim sangat tidak menyukai kebijakan AS. Misal, sebuah polling di sembilan negara Islam, antara Desember 2001-Januari 2002, menampilkan realitas opini di kalangan Muslim, bahwa AS adalah ''kejam, agresif, sombong, arogan, mudah terprovokasi dan bias dalam politik luar negerinya.''
Tetapi, Huntington tidak mau menampilkan fakta bahwa kebencian masyarakat Barat (Eropa dan rakyat AS sendiri) terhadap kebijakan-kebijakan politik AS juga sangat besar. Bahkan, jauh lebih besar dari apa yang terjadi di kalangan Muslim. Di dunia Islam, tidak ada demonstrasi besar-besaran diikuti ratusan ribu sampai jutaan orang dalam menentang AS seperti yang terjadi di berbagai negara Eropa dan di dalam AS sendiri. Banyak ilmuwan dan tokoh AS, seperti Chomsky, William Blum, yang tanpa ragu-ragu memberi julukan AS sebagai a leading terrorist state, atau a rogue state. Karena itu, sangatlah naif, bahwa ilmuwan seperti Huntington ini justru mencoba menampilkan fakta yang tidak fair dan sengaja membingkai Islam sebagai musuh baru AS. Bahkan ia menyatakan, The rhetoric of America's ideological war with militant communism has been transferred to its religious and cultural war with militant Islam.
Huntington, Bernard Lewis, dan sahabat-shabatnya terus berkampanye agar negara-negara Barat lain juga mengikuti jejak AS dalam memperlakukan Islam sebagai alternatif musuh utama Barat, setelah komunis. John Vinocur, dalam artikelnya berjudul Trying to Put Islam on Europe's Agenda, (International Herald Tribune, 21 September 2004), mencatat, But Huntington insists Europe's situation vis-a-vis Islam is more acute. Skenario inilah yang dirancang kelompok ''neo-konservatif'' di AS, yang beranggotakan Yahudi-Zionis, Kristen fundamentalis, dan ilmuwan konfrontasionis. (Lihat buku The High Priests of War (Washington DC: American Free Press, 2004), karya Michel Colin Piper).
Tanpa pendefinisian yang jelas terhadap ''Islam militan'', maka itu akan menyeret kaum Muslim lainnya. Itu, misalnya, menimpa Thariq Ramadhan dan Yusuf Islam, yang dilarang memasuki AS. Begitu juga ribuan warga Muslim yang menerima perlakuan tidak manusiawi. Dalam sub-bab berjudul The Search for an Enemy, Huntington mencatat, bahwa pasca Perang Dingin, AS memang melakukan pencarian musuh baru, yang kemudian menemukan musuh baru bernama ''Islam militan'', setelah peristiwa WTC. Huntington menulis: Some Americans came to see Islamic fundamentalist groups, or more broadly political Islam, as the enemy, epitomized in Iraq, Iran, Sudan, Libya, Afghanistan under Taliban, and to lesser degree other Muslim states, as well as in Islamic terrorist groups such as Hamas, Hezbollah, Islamic Jihad, and the al-Qaeda networkThe cultural gap between Islam and America's Christianity and Anglo-Protestanism reinforces Islam's enemy qualifications. And on September 11, 2001, Osama bin Laden ended America's search. The attacks on New York and Washington followed by the wars with Afghanistan and Iraq and more diffuse war on terrorism make militant Islam America's first enemy of the twenty-first century.
aaons, buku Who Are We? perlu dicermati dalam konteks skenario politik global terhadap Islam, yang sebenarnya merupakan satu upaya ''viktimisasi Islam'' untuk menutupi berbagai kesalahan kebijakan AS. Apakah John Kerry jika menang Pemilu Presiden AS mampu keluar dari ''skenario Huntington''? Biasanya sulit. Tapi, siapa tahu?

Status sosial dalam kehidupan modernisasi sangatlah terbagi dalam berbagai spektrum. Sosial tidak hanya dimaknai sebagai hubungan antar umat manusia, namun hubungan manusia yangdilihat dalam berbagai prespektif yakni ekonomi, budaya dan lain sebagainya. Penulis sebut bahwa bentuk budaya, politik,ekonomi dan yang lain merupakan perangkat yang membentuk sistem sosial.
Dalam wilayah ekonomi, mungkin prespektif Karl Mark yang menarik untuk dijadikan rujukan. Bahwa dalam struktur masyarakat produksi kelas masyarakat sosial dibagi menjadi dua yakni proletar dan borjuis. Proletar adalah kaum buruh yang dalam hal ini menjadi babu kaum borjuis atau kaum majikan. Dalam pandangan Karl Mark bahwa kaum borjuislah yang mengusai kaum praletar dalam bidang produksi.
Kaum proletar sebagai yang terkuasai mengalami alienasi atau keterasingan dalam hidupnya. Jika masyarakat proletar bekerja dalam sistem produksi modern maka dalam pandangan Karl Mark mereka mengalami keterasingan dari lingkungan kerja, teman kerja, alat produksi, dan hasil produksi. Kaum proletar seakan an sich terhadap lingkungan kerjanya, tidak mau tau yang terjadi dilingkungan kerja.
Dalam Pandangan Karl Mark tersebut Ada ketimpangan kelas ekonomi yang berdampak sistemik pada kelas sosial. Dalam artian sistem sosial terpecah menjadi dua muka disebabkan kelas ekonomi yang sengaja dipecah oleh sistem produksi modern yang kapitalistik. Oposisi biner dalam wilayah sosial disini tidak sendirinya ada namun bentukan ekonomilah yang mengakibatkan kelas sosial terjadi.
Hal tersebut kalau dilihat dalam spektrum ekonomi. Kalau dalam spektrum budaya ada “dunia yang terbelah” dalam kebudayaan kita. Keterbelahan tersebut minimal terjadi antara kutub ke budayaan barat dan timur. Eropa yang mereperentasikan budaya barat yang menjadi oposisi biner dari kebudayaan asia sebegai reprentasi budaya timur. Dalam dua budaya besar tersebut seringkali berbeda dan sengaja digesek-kan.
Barat yang terlambangkan sebagai budaya pop yang terkesan glamour dan hedonistik. Sedangkan budaya timur sebagai representasi budaya sopan dan lemah lembut. Kedua kutub berbeda inilah yang sering menjadi pergolakan dalam fenomena sosial. Ada anggapan bahwa Indonesia itu budaya timur jadi tidak usah sok barat atau anggapan-anggapan lain. Hal inilah yang menjadi keterbelahan dalam budaya dalam ruang lingkup kewilayahan yang luas.
Yang menjadi pertanyaan sekarang, apakah kebudayaan harus dipisah oleh geografis, atau harus dipecah-pecah dalam suatau kewilayahan. Budaya bukannya lebih baik digeneralkan dan tidak dikota-kotakkan yang cendrung dangkal. Orang Indonesia boleh berbudaya layaknya orang eropa, Malaysia boleh berbudaya layaknya orang Indonesia begitu juga sebaliknya. Budaya dalam pandangan penulis tidak harus dikotak-kotakkan dalam kewilayahan. Tidak harus ada oposisi biner yakni timur-barat, asia-eropa,indonesia-malaysia atau lain sebagainya. Biarkan budaya seperti air yang mengalir dan merembes kemana saja.
Dari papaparan penulis dari fenomena sosial yang ada selama ini, baik dalam sistem ekonomi dan kebudayaan atau mungkin dalam bidang lain ada semacam pembelahan yang terjadi. Ada “dunia yang terbelah” menjadi dua bagian besar atau dalam bahasa filsafatnya oposisi biner. Dalam asumsi penulis selayaknya dunia ini tidak dijadikan dua atau terpecah jadi bagian-bagian yang cendrung berbeda dan berakibat pada gesekan sosial. Kalau boleh berharap, bangunlah dunia yang utuh dalam satu kesatuan tidak dunia yang terbelah. Dunia yang utuh tidak oposisi biner dan sengaja membedakan antara proletar-borjuis dan antara barat dan timur.
Tulisan ini hanya sekedar refleksi dan kegusaran penulis akan situasi sosial dan dunia yang terbelah. Entah menurut pembaca hal ini terlalu dangkal atau apalah yang mungkin beranggapan bahwa perbedaan itu rahmat. Namun dalam pandangan penulis perbedaan yang rahmat itu tidaklah memarginalkan kelompok yang lain dalam hal ini proletar dan budaya yang merasa termarginalkan baik itu barat maupun timur. Selanjutnya, terserah anda untuk ber-asumsi yang terpenting dalam pandangan penulis “dunia yang terbelah” sudah saatnya diakhiri dan membuat dunia yang utuh dalam satu kesatuan. Tidak ada yang harus dimarginalkan dalam spektrum dan konteks apapun.

oleh: Irham Thoriq

Lampiran SK Nomor : 32/YPRU/I/2010

Tentang Penetapan Alokasi Dana Yayasan TA 2009-2010

No Item Kegiatan Alokasi Dana Waktu Penanggung Jawab
1 Subsidi Kegiatan dan HR Guru TKRA Rp. 12.000.000,- 12 Bulan

Tahun 2010

Sekretaris YPRU
2 Pengembangan fasilitas sarana dan pra sarana TKRA Rp. 10.000.000,- Pebruari sampai Maret 2010 Kabid Sarana dan Prasarana
3 Renovasi Gedung Madrasah MI/MTs/MA RU Rp. 75.000.000,- Januari sampai Maret 2010 Kabid Sarana dan Prasarana
4 Peningkatan Prasarana Layanan Administrasi Rp. 12.500,000,- Maret, Agustus, dan Nopember 2010 Kabid Sarana dan Prasarana
5 Magang bagi Guru TKRA/MI/MTs/MA Rp. 10.500.000,- Pebruari, Juni, dan Oktober 2010 Kabid SDM dan Kurikulum
6 Workshop kependidikan dan Kurikulum Rp. 25.000.000,- Juli dan September 2010 Kabid SDM dan Kurikulum
7 Peningkatan komunikasi dan silaturrahmi dengan pesantren Rp. 5.000.000,- Desember 2009 sampai November 2010 Kordinator kepesantrenan
8 Biaya garap tanah wakaf tahun 2009-2010 Rp. 60.000,000,- Musim tanam tahun 2009-2010 Kabid Perwakafan
9 Dana Saving Yayasan Rp. 30.508.831,- Bendahara Yayasan
Jumlah Rp. 240.508.831,-

Ganjaran, 17 Januari 2010

An. Ketua YP “Raudlatul Ulum”

Ketua I

KH. Mudjtaba Bukhori

Hermeneutika dan Problematika Penafsiran Teks Judul ini, adalah terjemahan dari salah satu artikel Abu Zayd yang pertama kali membahas kajian Hermeneutika-nya dalam bahasa Arab “al-Hirminiyutiga wa Mu’dilat Tafsir al-Nash”. Artikel ini, kini dapat kita jumpai di dalam buku-nya “Isykaliyyat al-Qira’ah wa Alliyat al-Ta’wil”. Dalam artikel ini, ia menulis: Hermeneutika pada saat yang sama merupakan persoalan [...]
Dua Dimensi makna Secara etimologis, Hermeneutika berasal dari bahasa Yunani “hermeneuein”, yang berarti mengungkapkan pikiran seseorang dalam kata-kata. Kata kerja itu juga berarti “menerjemahkan” dan juga bertindak sebagai “penafsir”. Dan menurut Mudjia, Hermeneutika adalah upaya peralihan dari sesuatu yang gelap ke sesuatu yang terang.[1] Istilah Hermeneutika memiliki asosiasi etimologis dengan nama dewa dalam metologi Yunani, ‘Hermes’.[2] Ia [...]
Kita berhak bertanya, apakah istilah Hermeneutika telah digunakan dalam tradisi filsafat kuno? Sebagaimana dalam berbagai buku dinyatakan bahwa istilah tersebut yang dalam bahasa inggris hermeneutics, berasal dari kata dalam bahasa Yunani hermeneuine dan hermenia yang masing berarti “menafsirkan” dan “penafsiran”.[1] Persoalannya, kata latin hermeneutica belum muncul sampai abad ke-17, namun baru muncul pertama kali saat [...]
Countdown
    No dates present
Sekilas Info
Recent Forum Posts
    Partner

    Kontak
    Kantor YP Raudlatul Ulum

    Jl. Raya No 02 Ganjaran Gondanglegi Malang Jatim 65174

    Telp : 0341 - 879846 - 878244 - 878089

    email : info@raudlatul-ulum.com

    YM! :