Archive for November, 2009

PTN Tangani Pengawasan hingga Distribusi Soal

JAKARTA – Pemerintah berjanji meneruskan ujian nasional (unas). Namun, dilakukan berbagai upaya perbaikan di segala sektor. Salah satunya memperketat pengawasan ujian tersebut. Ini bertujuan mengurangi kecurangan yang sering dikeluhkan masyarakat. Dengan demikian, hasil unas diharapkan lebih kredibel.

Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) Djemari Mardapi mengatakan, pihaknya saat ini memperbaiki pelaksanaan unas 2010. ”Upaya perbaikan itu bukan karena adanya putusan MA. Tapi, kami merespons berbagai masukan masyarakat,” terangnya kemarin. Read the rest of this entry »

Motivasidipandang sebagai dorongan mental yang menggerakkan dan mengarahkan perilakumanusia, termasuk siswa. Dalam motivasi terkandung adanya keinginan yangmengaktifkan, menggerakkan, menyalurkan dan mengarahkan sikap dan perilakusiswa. Ada tiga komponen dalammotivasi yaitu (1) kebutuhan (2) dorongan dan (3) tujuan (Koesworo:1989;Siagian:1989; Shein:1991; Biggs & Telfer:1987) Read the rest of this entry »

Pendahuluan

Dalam perjalanannya mengemban wahyu Allah, Nabi memerlukan suatu strategi yang berbeda dimana pada waktu di Makkah Nabi lebih menonjolkan dari segi tauhid dan perbaikan akhlaq tetapi ketika di Madinah Nabi banyak berkecimpung dalam pembinaan/pendidikan sosial masyarakat karena di sana beliau di angkat sebagai Nabi dan kepala negara.

Persoalan yang dihadapi oleh Nabi ketika di Madinah jauh lebih komplek dibanding ketika di Makah. Di sini ummat Islam sudah berkembang pesat dan harus hidup berdampingan dengan sesama pemeluk agama yang lain, seperti Yahudi dan Nasrani. Oleh karena itu pendidikan yang diberikan oleh Nabi juga mencakup urusan-urusan muamalah atau tentang kehidupan bermasyarakat dan politik.

Pelaksanaan pendidikan islam masa nabi dapat di bedakan menjadi dua tahap, baik dari segi waktu dan tempat penyelenggaraan, maupun dari segi isi dan materi pendidikan. Yaitu : ( 1 ) fase makkah, sebagai fase awal pembinaan pendidikan islam dengan makkah sebagai pusat kegiatannya. Dan ( 2 ) fase madinah, sebagai fase lanjutan ( penyempurnaan ) penbinaan islam dengan madinah sebagai sentral kegiatannya.

Pelaksanaan Pendidikan Islam di Makkah.

Sebelum Muhammad memulai tugasnya sebagai rasul, yaitu melaksanakan pendidikan islam terhadap umatnya. Alloh telah mendidik dan mempersiapkannya untuk melaksanakan tugas tersebut secara sempurna melalui pengalaman, pengenalan serta peran sertanya dalam kehiduapan masyarakat dan lingkungan budayanya. Dengan potensi fitrah nya yang luar biasa, ia mampu mengadakan penyesuaian diri denagan masyarakat dan lingkungan budaya masyarakatnya yang telah menyimpang dari ajaran-ajaran yang sebenarnya.

Menjelang usia ke-40, alloh memberiakan kepercayaan kepada Muhammad sebagai rasul / utusan untuk menjadi pendidik bagi umatnya, untuk meluruskan kembali warisan nabi ibrahim dan penyempurnaannya, serata memperbaiki keadaan dan situasi budaya masyarakatnya. Maka mulailah Nabi Muhammad SAW menerima petunjuk-petunjuk dan instruksi dari Alloh pada tanggal 17 Ramadhan tahun 13 sebelum hijrah ( 6 Agustus 610 M ) untuk melaksakan pendidikan islam.

Nabi Muhammad mulai melaksanakan pendidikan islam sejak ayak 1-5 dari surat Al-Alaq diturunkan. Ayat tersebut berisi perintah dan petunjuk tentang apa yang harus dilakukan oleh Nabi Muhammad, baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap umatnya.

Nabi Muhammad mendidik umatnya secara bertahap, ia mulai dengan keluarga dekatnya, yang pada mulanya secara sembunyi- sembunyi. Mula-mula di ajak istrinya. Khadijah, untuk beriman kepada alloh, kemudian diikuti oleh putra angkatnya, Ali bin Abi Thalib dan disulsul oleh shabat-shabat karib yang telah lama bergaul dengannya. Di antara shabat-shabat tersebut adalah Abu Bakar As- Siddiq. Utsman ibnu affan. Zubair ibnu awwan. Sa’ad ibnu Abi waqas, Abdurrahman ibnu auf dan beberapa shabat lainnya.

Keadaan demikian berlangsung sampai lebih dari 3 tahun sampai akhirnya turun dan perintah dari alloh, agar Nabi memberikan pendidikan islam secara terbuka.

“Maka sampaikanlah olehmu secara terng-terangan segala apa yang diperintahkan ( kepadamu ) dan berpalinglah dari orang-orang musyrik ( Q.S. Al-Hijr: 94 )

Di antara materi-materi pendidikan islam yang diajarkan nabi ketika makkah diantaranya termasuk Pendidikan Tauhid.

Dalam melaksanakan tugas kerasulannya. Nabi Muhammad SAW. Berhadapan dengan nilai-nilai warisan ibrahim yang telah banyak menyimpang dari yang sebenarnya, inti warisan tersebut adalah ajaran tauhid. Tetapi ajaran tersebut telah pudar, penyembahan terhadap behala-berhala dan perbuatan syirik lainnya menyelimuti ajaran tauhid. Inilah tugas Muhammad, yaitu untuk memancarkan kembali sinar tauhid dalam kehidupan umat manusia umumnya.

Intisari ajaran tauhid yang diajarkan oleh Nabi Muhammad kepada umatnya berdasarkan surat Al-Fatihah pokok-pokoknya adalah:

  1. Alloh adalah pencipta alam semesta, pengatur kehidupan manusia, pemilak segalanya maka dia yang berhak mendapat pujian dari manusia. Memuji alloh harus dilaksanakan secara langsung kepadanya bukan seperti kebiasaan masyarakat yang memuji tuhan dengan perantaraan berhala-berhala.
  2. Alloh bersifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim, yang memberikan dorongan untuk menjabarkan sifat kasih sayang dalam kehidupan sehari-hari terhadap sesama manusia yang berbeda dengan sikap permusuhan antar suku di kalangan bangsa arab.
  3. Alloh adalah raja hari kemudian, memberikan pengertian bahwa segala amal perbuatan manusia, baik atau buruk akan di balas olehnya, pegertian tersebut bertentangan dengan kepercayaann orang arab yang menganggap tidak ada hidup sesudah mati.

Itulah intisari ajaran tauhid yang dibawa oleh nabi Muhammad. Pelaksanaan tauhid tersebut jelas-jelas bertentangan dengan praktek kehidupan sehari-hari masyarakat arab inilah sebabnya. Nabi menyampaikan ajaran-ajaran islam secara bertahap yang di mulai dengan keluarga terdekat dengan sembunyi-sembunyi, baru kemudian, baru kemudian secara terbuka.

Dalam pelaksanaan pendidikan islam ini. Nabi mengajak umatnya untuk membaca, memperhatikan dan memikirkan kekuasaan dan kebesaran alloh dan diri manusia sendiri. Nabi memberikan teladan dan contoh dalam pelaksanaan sehari-hari, kemudian memerintahkan umatnya untuk mengikutinya.

Kebiasaan orang-orang arab membaca syair-syair yang berisi pujian kepada tuhan-tuhan mereka diganti dengan membaca Al-Qur’an. Kebiasaan memulai pekerjaan dengan menyebut nama berhala di ganti dengan membaca basmalah.

Dengan keadaan seperti ini maka Nabi pun mengajarkan Al-Qur’an dengan jalan membacakan ayat-ayat yang diterima dari Alloh, lalu Nabi  memerintah sahabat yang pandai menulis, untuk menulis ayat-ayat tersebut sesuai dengan yang di bacakan oleh Nabi dan yang mereka hafalkan.

Pendidikan Islam Di Madinah

Hijrah dari makkah ke madinah bukan hanya sekedar menghindarkan diri ancaman dari kaum Quraisy, tetapi juga mengatur potensi dan menyusun kekuatan untuk menghadapi tantangan-tantangan dari luar.

Berbeda dengan priode mekkah yang pengajarannya menekankan tauhid, maka di madinah ini nabi menekankan pengajarannya tentang social kemasyarakatan serta politik.

Pembinaan dan Pembentukan Masyarakat Baru / Pendidikan Ukhuwah.

Langkah pertama yang dilakukan oleh nabi adalah membangun masjid-masjid tersebut di gunakan untuk tempat tinggal nabi dan kaum Muhajirin. Selain itu masjid juga du gunakan sebagai sarana tempat berkumpulnya umat muslim untuk shalat berjama’ah, membaca Al-Qur’an dan bermusyawarah sebagai urusan.

Tugas selanjutnya yang di hadapi Nabi Muhammad adalah membina dan mengembangkan persatuan dan kesatuan masyarakat islam yang baru tumbuh tersebut Nabi mengikis sisa-sisa permusuhan dan pertentangan antar suku yang berasal dari daerah yang berbeda yakni kaum muhajirin dan anshor dengan jalan mengikat tali persaudaraan mereka.

Disamping itu, Nabipun berhadapan dengan masyarakat madinah lainnya yang belum masuk islam dan bangsa yahudi yang telah menetap di madinah untuk itu Nabi mengadakan perjanjian kerja sama dengan orang-orang yahudi madinah. Perjanjian tersebut sekaligus berarti bahwa masyarakat baru yang di bentuknya telah mendapatkan pengakuan dari pihak yahudi. Perjanjian kerjasama tersebut dengan kontistitusi madinah.

Pendidikan Kesejahteraan social

Dibidang ekonomi, memenuhi kesejahteraan social nabi memerintahkan kepada kaum muhajirin dan anshor untuk bekerja sesuai kemampuan masing-masing. Sedangkan yang sudah tidak kuat bekerja atau karena miskin, belanja mereka diberikan dari harta kaum muslimin bauk dari kalangan muhajirin maupun anshor.

Selain itu untuk menjalin kerjasama dan saling menolong dalam rangka membentuk masyarakat yang adil dan makmur, turunlah syariat Zakat dan Puasa yang merupakan pendidikan masyarakat dalam tanggung jawab social baik secara social maupun moral.

Pendidikan Hankam Dakwah Islam.

Setelah berlakunya kostitusi madinah maka kaum muslimin secara resmi menjadi satu kesatuan social dan politik atau masyarakat yang berdaulat sendiri dan diakui kedaulatannya oleh masyarakat sekelilingnya.

Usaha selanjutnya adalah memperluas kedaulatan tersebut dengan jalan mengajak kabilah-kabilah di sekitar madinah untuk masuk islam, kalau mereka tidak mau maka nabi tidak memaksa. Namun beliau berusaha mengikat perjanjian damai sebagai perjanjian dengan masyarakat yahudi di madinah.

Untuk menghadapi ancaman-ancaman dari luar, Nabi membentuk satuan pengamanan dan pertahanan untuk mendukung da’wah islam.

Itulah usaha-usaha yang dilakukan Nabi Muhammad SAW agar mutiara-mutiara islam yang telah tenggelam dalam Lumpur budaya masyarakat kembali bersinar, menyinari kehidupan umat manusia selamanya serta membawa rahmat bagi semesta alam.


25/11/2009 18:19

Liputan6.com, Jakarta: Mahkamah Agung melarang ujian nasional yang digelar Departemen Pendidikan Nasional. Alasannya, para tergugat, yakni presiden, wakil presiden, menteri pendidikan nasional, dan ketua badan standar nasional pendidikan telah lalai memenuhi kebutuhan hak manusia di bidang pendidikan dan mengabaikan peningkatan kualitas guru.

Dalam situs mahkamahagung.go.id, keputusan menolak kasasi perkara tersebut tertuang dalam Nomor 2596 K/Pdt/2008 yang diputus 14 September 2009. Gugatan ini mencuat lewat gugatan Kristiono, yang meminta pemerintah meninjau ulang sistem ujian nasional. Read the rest of this entry »

Diskusikan topik ini di Forum RU

A. Berbagai Pendekatan Dalam Pembelajaran

Mengembangkan suatu perencanaan pembelajaran memerlukan pendekatan tertentu. Pendekatan merupakan suatu upaya yang dilakukan oleh guru yang dimulai dengan perencanaan pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, dan diakhiri dengan penilaian hasil belajar berdasarkan suatu konsep tertentu, yang prakteknya mencerminkan keaktifan maksimun pada pihak guru dalam megajar dan keaktifan maksimum pada siswa dalam belajar.

Pendekatan yang dapat digunakan secara garis besar meliputi :

1. Pendekatan Imposisi

Penggunaan pendekatan imposisi dalam pembelajaran hingga kini masih banyak dilakukan oleh para guru. Pendekatan ini mempunyai cirri guru menyampaikan materi pembelajaran melalui penuturan, atau dengan melontarkan (ekspositoris) meteri pembelajaran kepada siswa.

2. Pendekatan teknologis

Pembelajaran dengan pendekatan teknologis menggunakan perangkat (wares), baik perangkat benda/perangkat keras (hardware), atau perangkat program (software). Perangkat benda dapat berbentuk radio, televise, atau computer, sedangkan perangkat program merupakan program yang dirancang sedemikian rupa sehingga siswa dapat mempelajari sendiri materi-materi pembelajaran dengan menggunakan perangkat tersebut.

3. Pendekatan Personalisasi

Pendekatan ini berakar pada falsafah progresifistis, yang berpandangan bahwa pada hakekatnya manusia itu adalah baik dan aktif. Proses pembelajaran kadang-kadang menyebabkan manusia menjadi sebaliknya. Agar pembelajaran dapat memperoleh hasil baik, maka pembelajaran sepatutnya memberi kesempatan kepada setiap siswa untuk aktif melakukan kegiatan sendiri.

4. Pendekatan Interaksional

Proses pembelajaran sebagaimana dijelaskan diatas, terdapat dua bentuk penyelenggaraan pembelajaran yang saling berlawanan, yaitu pembelajaran dengan siswa fasif dan pembelajaran dengan siswa aktif. Interaksi dalam proses pembelajaranpun dapat menimbulkan kesan sepihak, yaitu pada pembelajaran siswa fasif, dominasi barada pada pihak guru, sedangkan pada pembelajaran siswa aktif, dominasi pada pihak siswa.

5. Pendekatan Konstruktivis
a. Pengertian Pendekatan Konstruktivis

Adalah pendekatan yang digunakan dalam melaksanakan pembelajaran dengan memberikan perhatian khusus pada pengetahuan dan belajar serta menentukan metode mengajar yang dapat membantu guru dalam membimbing siswa untuk menghadapi dunia yang dihadapinya.(Depdiknas, 2004;8).

b. Prinsip Pendekatan Konstruktivis

Ada beberapa prinsip Pendekatan Konstruktivis yang dapat dijadikan sebuah acuan dalam mengelola proses pembelajaran, yaitu :

1)      Siswa diberi masalah yang sesuai dengan kehidupannya.

2)      Penstrukturan belajar pada konsep primer.

3)      Menjajaki dan menghargai pendapat siswa.

4)      Kurikulum disesuaikan dengan kebutuhan siswa.

5)      Menilai belajar siswa dalam konteks mengajar.

c. Elemen Belajar yang Konstruktivis

Konstruktivis mengembangkan pemikiran siswa akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya. Ada lima elemen belajar yang Konstruktivistik ;

1)      Pengaktifan pengetahuan yang sudah ada

2)      Pemerolehan pengetahuan baru

3)      Pemahaman pengetahuan

4)      Memperaktekkan pengetahuan dan pengalaman

5)      Melakukan refleksi terhadap strategi pengembangan pengetahuan tersebut.

6. Pendekatan Pengolahan Imformasi

Pendekatan Pengolahan Imformasi, pada dasarnya dikenal dengan nama teori pentahapan (stage theory). Model mengajar dari rumpun pemerosesan imformasi, dapat digunakan dalam mengajarkan konsep (joice & weil, 1972). Dalam pengelolaan imformasi ini, ada dua hal yang terlibat, yaitu siswa dengan aktif memproses, menyimpan dan mendapatkan kembali imformasi, dan pembelajaran yang merupakan upaya membantu siswa dalam mengembangkan mengolah imformasi dan menggunakannya secara sistematis untuk menguasai kompetensi tertentu.

7. Pendekatan Inquiry

Pendekatan Inquiry adalah memberi pembelajaran pada siswa untuk menangani permasalahan yang mereka hadapi ketika barhadapan dengan dunia nyata dengan menggunakan teknik yang diterapkan oleh seorang peneliti. Dalam pembelajaran inquiry, berarti para guru harus merencanakan situasi sedemikian rupa, sehingga para siswa bekerja seperti seorang peneliti dengan menggunakan prosedur mengenali permasalahan, menjawab pertanyaan, menggunakan prosedur dan menyiapkan kerangka berfikir, dan penjelasan yang kompatible dengan pengalaman pada dunia nyata.

8. Pendekatan Pemecahan Masalah

Pemecahan Masalah adalah suatu pendekatan pembelajaran yang dipercaya sebagai kendaraan/alat untuk mengembangkan kemampuan berfikir tinggi. Melalui proses problem solving, para siswa akan mampu menjadi pemikir yang handal dan mandiri. Mereka dirangsang untuk mampu menjadi seorang ;

  1. Eksplorer
  2. Inventor
  3. Desainer
  4. Pengambilan keputusan
  5. Komunikator

B. Perpaduan Berbagai Pendekatan dalam Pembelajaran

Dimuka dijelaskan bahwa pembelajaran menekankan pada proses keaktifan yang dilakukan oleh guru, dan proses kegiatan yang dilakukan oleh siswa. Keaktifan guru tercermin sejak proses pembelajaran belum dilaksanakan, hingga proses pembelajaran itu selesai. Sedangkan keaktifan siswa tercermin dari berbagai kegiatan yang dilakukan sebagai pengantar mereka mencapai tujuan.

1. Keaktifan Guru

Sebelum proses pembelajaran dilakukan seorang guru harus merencanakan proses pembelajaran yang akan dilaksanakan. Dalam perencanaan ini dilakukan analisis tentang bentuk-bentuk tingkah laku yang diinginkan muncul pada diri siswa yang menjadi tujuan berdasarkan atas kurikulum yang digunakan. Berdasarkan analisis tujuan, dipilih bentuk-bentuk pengalaman belajar serta bentuk-bentuk kegiatan yang dipandang dapat memberi pengalaman belajar yang sesuai dengan tujuan.

Berdasarkan perencanaan yang dibuat, guru melaksanakan apa yang telah direncanakan. Sebagaimana dijelaskan diatas, kegiatan utama guru mengajar adalah memberi rangsangan, bimbingan, pengarahan dan motivasi belajar untuk memberi kemudahan kepada siswa untuk belajar.

2. Keaktifan Siswa

Bentuk-bentuk keaktifan siswa dalam proses belajar sangat beraneka ragam. Keaktifan yang dimaksud meliputi keaktifan dalam penginderaan, mengolah ide-ide, menyatakan ide, dan melakukan ketermpilan jasmani yang mereka kuasai.

Kegiatan penginderaan dalam proses belajar yang menonjol adalah mendengar dan melihat. Melalui mendengar dan melihat dapat ditangkap kesan tentang obyek yang dating dari luar, yang menjadi dasar pembentukan pemahaman dan segi-segi tingkah laku lain.

C. Bentuk-Bentuk Pembelajaran
1. Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran aktif yang melaksanakan aktvitas siswa bersama-sama secara berkelompok dan tidak individual.

Pembelajaran kooperatif menggalakkan siswa berinteraksi secara aktif dan positif dalam kelompok, dengan hal ini akan memungkinkan terjadinya penggabungan dan pemeriksaan ide sendiri dalam suasana yang tidak tertekan. Pembelajaran ini melibatkan siswa dengan berbagai kemampuan untuk bekerja sama dalam kelompok guna mencapai tujuan yang sama. Aspek-aspek esensial yang terdapat dalam pembelajaran kooperatif ;

  1. Saling bergantung satu sama lain secara positif
  2. Saling berinteraksi langsung antar anggota dalam kelompok
  3. Akuntabilitas individu atas pembelajaran diri sendiri
  4. Keterampilan social
  5. Pemerosesan kelompok

2. Pembelajaran Aktif

Pembelajar aktif adalah kegiatan mengajar yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi dengan mata pelajaran yang dipelajarinya. Siswa lebih aktif dalam mempelajari materi pembelajaran yang menyiapkan siswa untuk hidup, imformasi yang diterima lebih lama diingat dan disimpan, dan lebih menikmati suasana kelas yang nyaman.

3. Pembelajaran Langsung/ Interaktif

Pembelajaran interaktif adalah model pembelajaran yang secara langsung diarahkan oleh guru dengan tugas-tugas spesifik yang harus dilengkapi para siswa dibawah pengawasan guru secara langsung. Dengan kata lain pembelajaran ini menyiratkan langsung interaksi antara guru dengan siswa.

4. Pembelajaran Inquiry
a. Strategi Pembelajaran Inquiry

Dilihat dari proses berfikir, ada dua strategi pembelajaran inquiry ;

1)      Inquiry deduktif (konsep diberikan oleh guru)

2)      Inquiry induktif (konsep ditentukan oleh siswa)

b. Tahapan Pembelajaran Inquiry

Dalam pelaksanaan pembelajaran tahapan yang ditempuh dalam pembelajaran inquiry adalah ;

1)                  Pemunculan masalah

2)                  Pengumpulan data (verifikasi)

3)                  Pengumpulan data (eksperimen)

4)                  Mengorganisasi dan menformulasikan pernyataan

5)                  Analisis

c. Prosedur Operasional

Prosedur operasional pembelajaran inquiry adalah ;

1)      Mencari jawaban untuk pertanyaan tentang dunia nyata

2)      Merumuskan pertanyaan, sehingga penyelidikan menjadi peristiwa yang berkelanjutan.

3)      Pertanyaan, penyelidikan dan pelajaran secara langsung di hubungkan dengan aktivitas yang dilakukan/alami siswa

4)      Dalam penyelidikan satu masalah, menggunakan cara yang berbeda. Supaya banyak ragam cara dalam waktu dan kelas yang sama.

5)                  Intervensi guru sebagai fasilitator, motivator, pendengar, penilai dan lawan

5. Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning)
a. Pengertian Pembelajaran Kontekstual

Pembelajaran kontekstual adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa mendorong membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dalam penerapan kehidupan mereka sehari-hari. Dengan demikian Pembelajaran kontekstual mengutamakan pada pengetahuan dan pengalaman atau dunia nyata.

b. Penerapan Pembelajaran kontekstual

Penerapan pembelajaran kontekstual dikelas melibatkan diantaranya ;

1)      Konstruktivisme

Yaitu menegmbangkan pemikiran siswa akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya. Siswa belajar pada dasarnya mencari alat untuk membentu memahami pengalamannya.

2)      Bertanya

Yaitu mengembangkan sifat ingin tau siswa, dengan bertanya. Karna dengan bertanya siswa mampu menjadi pemikir yang handal dan mandiri. Di antara manfaat bertanya atau mengajukan pertanyaan adalah ;

a)                  Memperluas wawasan berfikir

b)                  Mengundang penguatan

c)                  Memberi motivasi siswa untuk belajar lebih jauh

3)                  Menemukan (Inquiry)

Yaitu dengan melaksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiry untuk semua topic, siswa di beri pembelajaran untuk menangani permasalahan yang mereka hadapi ketika berhadapan dengan dunia nyata. Dan guru harus merencanakan sedemikian rupa sehingga apa yang mereka jelaskan relevan dengan pengalaman di dunia nyata.

4)      Masyarakat Belajar (learning community)

Yaitu menciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok). Siswa hidup dalam lingkungan masyarakat tempat tinggalnya atau disekitar sekolah. Pemanfaatan masyarakat sebagai konteks bagi siswa untuk pembelajaran kontekstual dapat dilakukan disekolah, dengan dua cara yaitu ;

a)      Menjadikan masyarakat sebagai nara sumber (diundang kesekolah pada jam belajar)

b)      Membawa siswa kelingkungan masyarakat (kesawah, rumah sakit, dll)

5)      Pemodelan (modeling)

Pemodelan yaitu menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran. Siswa akan mudah memahami dan menerapkan proses dan hasil belajar jika dalam pembelajaran guru menyajikan dalam bentuk suatu model, bukan hanya bentuk lisan. Siswa akan mampu mengamati dan mencontoh apa yang ditujukan oleh guru. Oleh karena itu guru hendaknya mempertunjukkan hal-hal yang penting dan mudah diterima oleh siswa.

6)      Refleksi (reflection)

Refleksi yaitu melakukan ringkasan akhir pertemuan pembelajaran, refleksi ini merupakan ringkasan materi dari pembeljaran yang telah disampaikan oleh guru. Siswa mengungkapkan, lisan atau tulisan dari apa yang mereka terima/pelajari.

7)      Penilaian sebenarnya

Yaitu melakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara, penilaian bisa dengan cara guru memberikan pertanyaan berdasarkan isi pelajaran. Tugas guru adalah menilai sejauh mana keberhasilan pembelajaran.

c. Kegiatan dan Strategi Pembelajaran Kontekstual

Kegiatan dan strategi pembelajaran kontekstual dapat ditunjukkan berupa kombinasi dari kegiatan-kegiatan berikut ini:

1)      Pembelajaran otentik

2)      Pembelajarn berbasis inquiry

3)      Pembelajaran berbasis masalah

4)      Pembelajaran layanan

5)      Pembelajaran berbasis kerja

d. Prinsip Pembelajaran Kontekstual

Prinsip pembelajaran kontekstual adalah agar siswa dapat mengembangkan cara belajarnya sendiri dan selalu mengkaitkan dengan apa yang telah diketahui dan apa yang ada di masyarakat.adapun secara terperinci prinsip pembelajaran kontekstual sebagai berikut :

1)      Menekankan pada pemecahan masalah

2)      Mengenal kegiatan belajar terjadi pada berbagai konteks.

3)      Mengejar siswa untuk membantu dan mengarahkan belajarnya

4)      Menekankan pembelajaran dalam konteks kehidupan siswa

5)      Mendorong siswa belajar dari satu dengan lainnya

6)      Menggunakan penilaian otentik.

e. Metode Pembelajaran Kontekstual

Metode yang dilakukan dalam pembelajaran kontekstual adalah menggunakan situasi kehidupan nyata dari masyarakat setempat dimana siswa

dapat mengaflikasikan pengetahuan dan keterampilan yang telah mereka kembangkan.

f. Contoh Pembelajaran Kontekstual

Mata Pelajaran/

Standar Kompetensi

Pembelajaran Kontekstual

Pengetahuan

Keterampilan

Pemahaman

Bahasa Indonesia :

Keterampilan Menulis:

Mampu berkomunikasi dalam menggunakan bahas formal yang baik dan benar

 

 

 

Struktur dan bahasa dalam kata-kata formal yang baik dan benar Keterampilan untuk menulis sebuah surat formal dengan menggunakan struktur dan bahasa yang baik dan benar Situasi kehidupan dunia nyata :

Sebuah pabrik yang beroperasional didekat sekolah menimbulkan pencemaran udara, tanah, air dan suara.

D. Konsep Tentang Proses Pembelajaran (Pendidikan)

  1. 1. Menurut Jerome J. Bruner

Proses pendidikan adalah proses pembelajaran (bagainama cara belajar, pendekatan, stretegi, metode dan lain sebagainya). Sedangkan inti sasaran pembelajaran adalah membimbing siswa belajar.

  1. 2. Menurut Hilda Taba

Pandangan tentang proses penbelajaran mempunyai ikatan erat dengan pandangan tentang fungsi pendidikan, terutama pendidikan disekolah. Secara garis besar pandangan tentang fungsi pendidikan dapat dikelompokkan menjadi tiga macam :

  1. Pendidikan berfungsi memelihara dan menyampaikan warisan kebudayaan kepada generasi muda
  2. Pendidikan berfungsi mengubahdan memperbaiki kebudayaan
  3. Pendidikan berfungsi mengembangkan kemampuan, kecakapan dan pribadi setiap individu.

JADWAL LES / TAMBAHAN JAM KHUSUS KELAS IX

BIDANG STUDI UJIAN NASIONAL

MTs RAUDLATUL ULUM PUTRA

TAHUN PELAJARAN 2009 – 2010

No

HARI

JAM

BIDANG STUDI

NAMA GURU

1

SABTU

03.00 WIB

s/d

05.0  WIB

IPA A.Khufaaji Jaufan, S.Ag, S.Pd

2

AHAD Bahasa Indonesia Drs. Sulhan Bakri

3

SENIN MTK Ir. Su’ib Anshori

4

SELASA Bahasa Inggris H. Ali Yakhsyallah, S.Ag

5

RABU MTK Ir. Su’ib Anshori

6

KAMIS

ISTIGHOTSAH

Perhatian :

Jadwal ini berlaku muali hari sabtu tanggal 21 Nopember 2009.

Semua Siswa Kelas IX diharuskan mengikuti kegiatan tersebut.

JADWAL KEGIATAN ISTIGHOTSAH KHUSUS KELAS IX

NO

HARI

TGL/BULAN

TEMPAT

WAKTU

GURU PENGASUH

1

Kamis

3 – 12 – 2009

Pesarean 3:00 WIB Ust.  Sulhan Nayaqi

2

Kamis

10 – 12 – 2009

Pesarean 3:00 WIB KH. Ali Makki

3

Kamis

17 – 12 – 2009

Pesarean 3:00 WIB Ust. Syabrowi Q

4

Kamis

24 – 12 – 2009

Pesarean 3:00 WIB Ust.  Mahmudi

5

Kamis

31 – 12 – 2009

Pesarean 3:00 WIB Ust.  Sulhan Nayaqi

6

Kamis

7 – 1 – 2010

Pesarean 3:00 WIB KH. Ali Makki

7

Kamis

14 – 1 – 2010

Pesarean 3:00 WIB Ust. Syabrowi Q

8

Kamis

21– 1 – 2010

Pesarean 3:00 WIB Ust.  Mahmudi

9

Kamis

28 – 1 – 2010

Pesarean 3:00 WIB Ust.  Sulhan Nayaqi

10

Kamis

4 – 2 – 2010

Pesarean 3:00 WIB KH. Ali Makki

11

Kamis

11 – 2 – 2010

Pesarean 3:00 WIB Ust. Syabrowi Q

12

Kamis

18– 2 – 2010

Pesarean 3:00 WIB Ust.  Mahmudi

13

Kamis

25– 2 – 2010

Pesarean 3:00 WIB Ust.  Sulhan Nayaqi

14

Kamis

4 – 3 – 2010

Pesarean 3:00 WIB KH. Ali Makki

15

Kamis

11 – 3 – 2010

Pesarean 3:00 WIB Ust. Syabrowi Q

16

Kamis

18 – 3 – 2010

Pesarean 3:00 WIB Ust.  Mahmudi

Hasil pencarian menuju artikel ini:

jadwal les, jadwal les kls 9, ulum kelas 9 th 2009

Pengertian Pendidikan Nasional

Pendidikan nasional adalah Pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman. Sistem pendidikan nasional adalah Keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.

Jusuf Amir Faesal mengungkap bahwa sistem pendidikan nasional adalah suatu usaha keseluruhan yang terpadu dari semua satuan dan kegiatan pendidikan yang berkaitan satu dengan lainnya untuk mengusahakan tercapainya tujuan pendidikan nasional. Atau ringkasnya, sistem pendidikan nasional adalah satu pranata dari sejumlah pranata yang berada dalam sistem pendidikan nasional.

Tujuan Pendidikan Nasional

Tujuan pendidikan nasional dinyatakan didalam UU RI No. 2 tahun 1989 pasal 3 :

a     Terwujudnya bangsa yang cerdas

b     Manusia yang utuh beriman dan bertaqwa kepada tuhan YME

c      Budi pekerti luhur

d     Terampil dan betpengetahuan

e     Sehat jasmani dan rohani

f       Berkepribadian yang mantap dan mandiri

g     Bertanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan

Jadi tuntutan pendidikan nasional diberlakukan untuk semua satuan pendidikan,

Bisa ditarik kesimpulan Tujuan pendidikan nasional memuat gambaran tentang nilai-nilai yang baik, luhur, pantas, benar, dan indah untuk kehidupan. Pendidikan memiliki dua fungsi yaitu memberikan arah kepada segenap kegiatan pendidikan dan merupakan sesuatu yang ingin dicapai oleh segenap kegiatan pendidikan.

Landasan Pendidikan Nasional

Pelaksanaan pendidikan nasional berlandaskan kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

KELEMBAGAAN PENDIDIKAN

Kelembagaan Pendidikan

Pendidikan nasional dilaksanakan melalui lembaga-lembaga pendidikan baik dalam bentuk sekolah maupun dalam bentuk kelompok belajar. Penyelenggaraan SISDIKNAS dilaksakan melalui dua (2) jalur, ada kalanya berjenjang dan tidak berjenjang. Yaitu melalui jalur pendidikan sekolah dan jalur luar sekolah disingkat PLS.

  1. jalur pendidikan sekolah melalui kegiatan belajar mengajar secara berjenjang dan berkesinambungan (pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi). Sifatnya sormal, diatur berdasarkan ketentuan-ketentuan pemirintah ada keseragaman pola yang bersifat nasional.
  2. jalur pendidikan luar sekolah merupakan pendidikan yang bersifat kemasyarakatan yang diselenggarakan diluar sekolah melalui kegiatan belajar mengajar yang tidak berjenjang dan tidak berkesinambungan seperti kursus-kursus diluar sekolah yang sifatnya tidak formal.
  3. Jenjang pendidikan adalah satu tahap dalam pendidikan berkelanjutan yang di tetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik serta keluasan dan kedalam bahan pengajaran (UU RI. No. 2 tahun 1989. bab I, pasal I ayat 5).

-       Jenjang pendidikan dasar untuk memberikan bekal dasar, atau pendidikan pertama/serta sampai tamat

-       Jenjang pendidikan menengah selamanya 3 tahun sesudah pendidikan dasar, diselenggarakan di SLTA atau satuan pendidikan sederajat.

-       Jenjang pendidikan tinggi, disebut Perguruan Tinggi yang dapat berbentuk akademik, politeknik, sekolah tinggi, institut dan universitas.

PROGRAM DAN PENGELOLAAN PENDIDIKAN

Jenis Program Pendidikan

Jenis pendidikan adalah pendidikan yang dikelompokkan sesuai dengan sifat dan kekhususan tujuannya (UU RI No.2 Tahun 1989 Bab I, Pasal 1 Ayat 4 No. 2 Tahun 1989).

  1. pendidikan umum adalah pendidikan yang mengutamakan perluasan dan pengetahuan dan keterampilan peserta didik. Pendidikan berfungsi untuk sebagaimana acuan umum bagi jenis pendidikan lainnya.
  2. pendidikan jurusan adalah pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat bekerja pada bidang pekerjaan tertentu. Seperti bidang teknik tata boga, dan busana perhotelan, kerjinan, administrasi, perkantoran, STM dan lain-lain.
  3. pendidikan luar biasa merupakan pendidikan khusus yang diselenggarakan untuk peserta didik yang menyandang kelainan fisik/mental yang termasuk pendidikan luar biasa adalah SDLB untuk jenjang dasar, dan PLB untuk jenjang pendidikan menengah memiliki program khusus yaitu anak tuna netra, tuna rungu, tuna daksa. Untuk pendidikan gurunya disediakan SGPIB (Sekolah Guru Pendidikan Luar Biasa) setara dengan Diploma III.
  4. pendidikan kedinasan merupakan pendidikan khusus yang diselenggarakan untuk meningkatkan kemampuan pemerintah dan non departemen.
  5. pendidikan keagamaan merupakan pendidikan khusus yang mempersiapkan peserta didik dalam melaksanakan peranan yang khusus dalam pengetahuan ajaran agama, yang terdiri dari tingkat dasar, menengah dan pendidikan tinggi.

Kurikulum Program Pendidikan

Istilah kurikulum asal mulanya dari Dunia Olah Raga zaman yunani kuno. Curir berarti “pelari” dan Curere artinya “tempat terpaku”, kurikulum kemudian diartikan “jarak yang harus ditempuh” oleh pelari (nana sujana,1989:4) berdasarkan arti yang terkandung kurikulum dalam pendidikan dianalogikan sebagai arena tempat peserta didik berlari untuk mencapai “finish” berupa Ijazah, gelar, diploma(zais, 1976 yang dikutip oleh Muhammad ansyar dan nurtain, 1992:7).

Dapat disimpulkan bahwa kurikulum adalah perangkat atau rencana yang disusun untuk mencapai tuuan pendidikan. Dalam hal ini, kurikulum mencakup dua aspek yaitu aspek kesatuan nasional, dan aspek lokal.

Pengelolaan Pendidikan Dalam Merancang Pengajaran

Cara menjabarkan muatan lokal ke dalam bentuk rancangan pengajaran. Kegiatan ini sudah dimanfaatkan wawasan tentang pendekatan yang digunakan, strategi belajar, metode/teknik, dan sarana.

  1. Faktor penunjang pelaksanaan muatan lokal

-.  Keinginan dari kebanyakan peserta didik untuk cepat memperoleh bekal yang membawakan hasil

-.   Sarana cukup banyak

-.   Ketenangan yang bervariasi

-.  Materi muatan lokal yang sudah tercantum sebagai materi kurikulum dan sudah dilaksanakan secara rutin.

-.  Media masa khususnya media komunikasi visual seperti TV, Radio, Lab, Perpustakaan dan lain-lain.


Pengertian Strategi Pembelajaran Afektif.
Strategi pembelajaran afektif adalah strategi yang bukan hanya bertujuan untuk mencapai pendidikan kognitif saja, akan tetapi juga bertujuan untuk mencapai dimensi yang lainnya. Yaitu sikap dan keterampilan afektif berhubungan dengan volume yang sulit diukur karena menyangkut kesadaran seseorang yang tumbuh dari dalam, afeksi juga dapat muncul dalam kejadian behavioral yang di akibat dari proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru.
Hakikat Pendidikan Nilai dan Sikap.
Sikap (afektif) erat kaitannya dengan nilai yang dimiliki oleh seseorang, sikap merupakan refleksi dari nilai yang dimiliki, oleh karenanya pendidikan sikap pada dasarnya adalah pendidikan nilai.
Nilai, adalah suatu konsep yang berada dalam pikiran manusia yang sifat – sifatnya tersembunyi, tidak berada dalam dunia yang empiris. Nilai berhubungan dengan pandangan seseorang tentang baik dan buruk, layak dan tidak, pandangan seseorang tentang semua itu, tidak bisa dirubah. Kita mungkin hanya dapat mengetahui dari prilaku yang bersangkutan oleh karena itu, nilai pada dasarnya adalah standar perilaku sesorang. Dengan demikian, pendidikan nilai pada dasarnya proses penanaman perilaku kepada peserta didik yang diharapkan kepada siswa dapat berperilaku sesuai dengan pendangan yang di anggap baik dan tidak bertentangan dengan norma – norma yang berlaku.
Dougla Graham (Golu 2003) menyatakan 4 faktor merupakan dasar kepatuhan seseorang terhadap nilai – nilai tertentu :
? Normativist : Kepatuhan yang terdapat pada norma – norma hokum.
? Integralist : Kepatuhan yang di dasarkan pada kesadaran dan pertimbangan – pertimbangan yang rasional.
? Fenomalist : Kepatuhan berdasarkan suara hati atau sekedar basa – basi.
? Hedonist : Kepatuhan berdasarkan diri sendiri.

Nilai bagi seseorang tidaklah statis akan tetapi selalu berubah, setiap orang akan selalu menganggap sesuatu itu baik sesuai dengan pandangannya pada saat itu. Oleh sebab itu, system nilai yang dimiliki seseorang bisa di bina dan diarakhan. Komitmen seseorang terhadap suatu nilai tertentu terjadi melalu pembentukan sikap, yakni kecendrungan seseorang terhadap suatu objek, misalnya jika seseorang berhadapan dengan sesuatu objek, dia akan menunjukkan gejala senang atau tidak senang, suka atau tidak suka. Golu (2005) menyimpulkan tentang nilai tersebut :
? Nilai tidak bisa di ajarkan tetapi di ketahui dari penampilannya.
? Pengembangan dominan efektif pada nilai tidak bisa di pisahkan dari aspek kognitif dan psikomotorik.
? Masalah nilai adalah masalah emosional dan karena itu dapat berubah, berkembang, sehingga bisa di bina.
? Perkembangan nilai atau moral tidak akan terjadi sekaligus, tetapi melalui tahap tertentu.

Sikap adalah kecendrungan seseorang untuk menerima atau menolak suatu objek berdasarkan nilai yang di anggap baik atau tidak baik. Dengan demikian, belajar sikap berarti memperoleh kecendrungan untuk menerima atau menolak suatu objek penilaian terhadap objek itu sebagai hal yang berguna atau berharga (sikap positif) dan tidak berguna atau berharga (sikap negatif).

Proses Pembentukan Sikap.
Pola Pembiasaan.
Dalam proses pembelajaran di sekolah, baik secara disadari maupun tidak, guru dapat menanamkan sikap tertentu kepada siswa melalui proses pembiasaan, misalnya sikap siswa yang setiap kali menerima perilaku yang tidak menyenangkan dari guru, satu contoh mengejek atau menyinggung perasaan anak. Maka lama kelamaan akan timbul perasaa benci dari anak tersebut yang pada akhirnya dia juga akan membenci pada guru dan mata pelajarannya.

Modeling.
Pembelajaran sikap dapat juga dilakukan melalui proses modeling yaitu pembentukan sikap melalui proses asimilasi atau proses pencontohan. Salah satu karakteristik anak didik yang sadang berkembang adalah keinginan untuk malakukan peniruan (imitasi). Hal yang di tiru itu adalah perilaku – perilaku yang di peragakan atau di demonstrasikan oleh orang yang menjadi idamannya. Modeling adalah proses peniruan anak terhadap orang lain yang menjadi idolanya atau orang yang dihormatinya. Pemodelan biasanya di milai dari perasaan kagum.

Model Strategi Pembelajaran Sikap.
Setiap strategi pembelajaran sikap pada umumnya menghadapkan siswa pada situasi yang mengandung konflik atau situasi problematis, melalui situasi ini di harapkan siswa dapat mengambil keputusan berdasarkan nilai yang dianggapnya baik.
a. Model Konsiderasi.
Model konsiderasi di kembangkan oleh Mc Paul, seorang humanis, Paul menganggap bahwa pembentukan moral tidak sama dengan pengembangan kognitif yang rasional. Menurutnya pembentukan atau pembelajaran moral siswa adalah pembentukan kepribadian bukan pengembangan intelektual. Oleh sebab itu, model ini menekankan kepada strategi pembelajaran yang dapat membentuk kepribadian. Tujuannya adalah agar siswa menjadi manusia yang memiliki kepribadian terhadap orang lain.
b. Model Pengembangan Kognitif.
Model ini banyak di ilhami oleh pemeikiran John Dewey dan Jean Piaget yang berpendapat bahwa perkembangan manusia terjadi sebagai proses dari restrukturisasi kognitif yang berlangsung serta berangsur – angsur menurut aturan tertentu.
c. Tehnik Mengklarifikasikan Nilai.
Tehnik volume clarification technic Que atau VCT dapat diartikan sebagai tehnik pengajaran untuk memebantu siswa dalam menerima dan menentukan suatu nilai yang di aggapnya baik dalam menghadapi suatu persoalan melalui proses menganalisis nilai yang sudah ada dan tertanam dalam diri siswa. VCT menekankan bagaimana sebenarnya seseorang membangun nilai yang menurut anggapannya baik, yang pada akhirnya nilai – nilai tersebut akan mewarnai perilaku dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.
Kesulitan Dalam Pembelajaran Afektif.
Kesulitan dalam pembelajaran afektif ini dikarnakan :
Sulit melakukan control karna banyak factor yang dapat mempengaruhi perkembangan sikap seseorang. Pengembangan kemampuan sikap baik melalui proses pembiasaan maupun modeling bukan hanya di tentukan oleh factor guru, akan tetapi juga factor lain terutama factor lingkungan.
Keberhasilan pembentukan sikap tidak bisa di evaluasi dengan segera. Berdeda dengan aspek kognitif dan aspek keterampilan yang hasilnya dapat diketahui setelah proses pembelajaran berakhir, keberhasilan dari pembentukan sikap dapat dilihat pada rentang waktu yang cukup panjang. Hal ini disebabkan sikap berhubungan dengan internalisasi nilai yang memerlukan proses lama.
Pengaruh kemajuan tekhnologi, berdampak pada pembentukan karakter anak, tidak bisa di pungkiri program-program TV yang menayangkan acara produksi luar negri yang memiliki latar belakang budaya yang berbeda, maka dari itu perlahan tapi pasti budaya asing yang belum cocok dengan budaya local menerobos dalam setiap ruang kehidupan.

DAFTAR PUSTAKA

Joni T. Rakaa (1980) Strategi Belajar Mengajar, Jakarta : P3G.
Wina Sanjaya (2008) Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Jakarta : Kencana.


Studi Islam di Irak

Negara Irak adalah Negara yang berbentuk Republik yang merdeka pada tahun 1958. Pada tahun 1950 negara ini berpenduduk 5.100.000 orang, 93 % penduduknya beragama Islam (4.730.000 orang) dengan rincian kaum sunni 36 % (1.850.000 orang) dan kaum syi’i 57 % (2.880.000 orang).

Luas Negara Irak 304.000 km dengan ibukotanya Baghdad dan kota-kota termasyhur antara lain Basra, Karbela, dan Mosul. Adapun penghasilan utama di Irak adalah padi-padian, kurma, kapas, kulit, permadani, dan minyak (34.000.000 ton) menurut data tahun 1955.

System pendidikan di Irak tidak jauh berbeda dengan system-sistem pendidikan yang ada di Negara Timur Tengah lainnya, yaitu: (a) tingkat Ibtidaiyah lamanya 6 tahun (enam kelas); (b) tingkat Mutawassitah, lamanya tiga tahun; (c) tingkat Tsanawiyah, lamanya dua tahun; dan (d) tingkat tinggi/Universitas, lamanya empat tahun. Pada tingkat Ibtidaiyah dari kelas 1 s/d kelas VI diajarkan Agama 2 jam dalam seminggu. Begitu juga tingkat Mutawassitah dan Tsanawiyah, pada tiap-tiap kelas diajarkan agama 2 jam seminggu.

Fakultas Syari’ah

Fakultas Syari’ah, mula-mula namanya madrasah Abu Hanifah, kemudian diubah menjadi Madrasah Al-Imam A’zham. Sesudah itu diubah lagi menjadi Darul Ulum Diniyah. Sekarang menjadi Fakultas Syari’ah, salah satu Fakultas dari Universitas Baghdad. Dengan demikian fakultas Syari’ah dibawah Kementerian Pengajaran, sedangkan sebelumnya berdiri sendiri dibawah Kantor Urusan Wakaf. Tujuan Fakultas Syari’ah ialah memberikan pelajaran kecerdasan yang teratur pada tingkat tinggi dalam ilmu Syari’at Islam, bahasa arab dan Kesusastraannya, sejarah Islam, sejarah agama-agama dan Ketuhanan, ilmu-ilmu kemasyarakatan dan pendidikan.

Fakultas Syari’ah memberikan gelar ilmiah Bacalorious kepada mahasiswa yang telah lulus dalam ujian penghabisan dalam ilmu-ilmu tersebut diatas. Belajar pada Fakultas Syari’ah adalah Cuma-Cuma, tidal dipungut uang kuliah, bahkan dengan belanjanya sendiri, serta diberikan makanan, pakaian, kitab-kitab pada mahasiswa secukupnya, dan selain dari pada itu diberi pula uang saku tiap-tiap bulan. Lama pelajaran empat tahun sesudah pelajaran Tsanawiyah.

Fakultas Tarbiyah

Pada tahun 1923 M, diadakan kursus petang hari untuk guru-guru sekolah rakyat, buat mendidik mereka menjadi guru pada sekolah menengah. Kemudian diubah system ini dengan mengadakan sekolah sendiri, pelajar-pelajarnya diterima dari murid-murid keluaran sekolah menengah dan lama pelajarannya dua tahun. Tetapi sekolah itu di tutup pada tahun 1931 M. kemudian di buka kembali pada tahun 1935 M, dan lama pelajarannya diubah menjadi tiga tahun pada tahun 1937 M. sesudah itu dijadikan empat tahun  pada tahun 1939 M hingga sekarang.

Dahulu pelajar-pelajarnya putera saja, dan pada tahun 1937 M baru mulai menerima pelajar-pelajar puteri. Pada tahun 1959 M Darul Mu’allimin al-Aliyah diubah namanya menjadi Fakultas Tarbiyah sebagai salah satu Fakultas dari Universitas Baghdad, sedang rencana pengajarannya tetap seperti sediakala. Mahasiswa yang diterima masuk Fakultas Tarbiyah ialah pelajar yang berijazah sekolah Tsanawiyah atau sederajat dengan itu. Begitu juga dapat diterima guru keluara Mu’allimin Ibtidaiyah, bila ia telah praktek mengajar sekurang-kurangnya setahun lamanya serta mendapat persetujuan dari Kementerian Pengajaran.

Lama belajar pada Fakultas Tarbiyah empat tahun, dan mahasiswa yang lulus dalam ujian penghabisan diberi gelar Licence dalam adab atau ulum. Fakultas Tarbiyah mempunyai perpustakaan yang besar, berisi 30.000 jilid buku-buku bermacam-macam ilmu pengetahuan sesuai dengan kebutuhan Fakultas Tarbiyah terdiri dari beberapa jurusan :

  1. Jurusan Bahasa Arab.
  2. Jurusan Bahasa-Bahasa Asing.
  3. Jurusan Ilmu-Ilmu Kemasyarakatan.
  4. Jurusan Ilmu-Ilmu Hayat.
  5. Jurusan Kimia.
  6. Jurusan Ilmu Pasti.
  7. Jurusan Ilmu Alam.

Ada tiap-tiap jurusan itu diberikan ilmu pendidikan dan ilmu jiwa mulai dari tingkat II s/d tingkat IV, untuk menyiapkan mahasiswa menjadi guru pada sekolah menengah dalam mata pelajaran yang dipelajarinya pada jurusan yang dipilih.

Lain dari pada itu ada lagi jurusan pendidikan dan ilmu jiwa, yaitu untuk Takhassus dalam ilmu pendidikan dan ilmu jiwa, lama belajarnya setahun. Tujuannya mendidik mahasiswa menjadi guru ilmu pendidikan dan ilmu jiwa pada sekolah Mu’allimin/Mu’allimat Ibtidaiyahatau menjadi pemeriksa (penilik di Indonesia) sekolah rakyat atau kepala sekolah menengah. Mahasiswa yang diterima masuk jurusan ilmu pendidikan atau ilmu jiwa itu ialah mahasiswa yang telah mendapat gelar Licence pada salah satu jurusan tersebut diatas dan telah berpengalaman praktek mengajar sekurang-kurangnya tiga tahun, serta menguasai bahasa Inggris, sehingga dapat membaca buku-buku bahasa Inggris dalam ilmu yang akan dipelajarinya sebagai sumber yang asli.

Sistem Pendidikan di Perancis

Perancis adalah Negara terluas ketiga di dunia setelah Ethiopia dan San Marine. Sampai sekarang Negara Perancis yang berstatus Republik (Republik of Perancis) sudah berusia 1.400 tahun. Negara ini tercatat dalam sejarah politik adalah Negara penjajah urutan pertama disusul Inggris.

Nama asli Perancis adalah La Republique Francais, yang di kepalai oleh seorang Presiden dengan kepala pemerintahan di ketuai oleh Perdana Menteri. Setelah revolusi Perancis berakhir, maka pada zaman Napoleon Bonaparte Negara mulai memonopoli pendidikan di Perancis dan perguruan swasta diperkenankan berdiri dan mengambil bagian dalam system pendidikan.

Pendidikan di Perancis berada di bawah tanggung jawab Departemen Pendidikan Nasional. System pendidikan sentralistis, yaitu sekolah di kelola oleh Pemerintah Pusat.

Sejak zaman Pemerintahan presiden De Gaulle (1958) diadakan tingkatan Pengelolaan pendidikan atau administrasi pendidikan, yaitu :

  1. Tingkat pertama adalah tingkat legislative dan penasehat pusat.
  2. Tingkat kedua adalah tingkat administrasi dan pelaksana pusat.
  3. Tingkat kedua adalah tingkat administrasi dan pelaksana setempat.

Kurikulum pendidikan tingkat rendah terdiri dari bahasa Perancis, membaca, menulis, berhitung, sejarah, ilmu bumi (khusus Perancis dan Negara-negara jajahan), akhlak, kewarganegaraan, dasar-dasar ilmu pasti dan alam, menggambar, pekerjaan tangan, bernyanyi dan gerak badan.

Murid-murid yang hendak melanjutkan sekolah mnengah, harus lulus ujian masuk kelas enam, terutama bagi mereka yang mempunyai nilai ujian cukup. Kalau nilainya baik, maka mereka dapat masuk dan diterima secara otomatis di tahun pertama (classes de sixieme). Yang menarik untuk dipelajari adalah tingkat kelas dimulai dari angka yang tertinggi kemudian menurun. Jadi sekolah dasar enam tahun, dan kelas diatur sebagai berikut:

  1. Kelas enam = kelas satu di Indonesia.
  2. Kelas lima = kelas dua di Indonesia.
  3. Kelas empat = kelas tiga di Indonesia.
  4. Kelas tiga = kelas empat di Indonesia.
  5. Kelas dua = kelas lima di Indonesia.
  6. Kelas satu = kelas enam di Indonesia.

Jadi, kalau tamat SD, berarti betul kelas satu, bukan kelas enam.

Mengenai pendidikan di Perancis, terdapat kekhususan tersendiri, yaitu semua peserta didik yang mampu menamatkan pendidikannya di pendidikan rendah dengan rapot baik, maka ia dapat melanjutkan sekolah Cycle d’observation, terutama peserta didik yang berusia 11-12 tahun. Lama belajar di Cycle d’observation dua tahun, yaitu kelas V dan VI. Selama kuartal pertama semua peserta didik di berikan mata pelajaran yang sama. Mereka yang lulus seleksi pada kuartal pertama dapat masuk ke jurusan klasik (Section Classique) dan dapat pelajaran bahasa latin. Kalau di Indonesia pada zaman belanda dapat disamakan, yaitu murid-murid kelas III Sekolah Rakyat atau Volk School, diperbolehkan ujian untuk masuk ke kelas H.I.S. (Hollands Inlandse School) empat tahun dengan bahasa pengantar bahasa Belanda untuk dapat melanjutkan ke M.U.L.O. (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs). Mereka yang menamatkan MULO dapat melanjutkan ke A.M.S. (Algemenee Middelbare School) atau sekolah menengah umum atau ke HIK (Hollandsch Inlandsche School atau Sekolah Guru). Bila mereka dapat menamatkan Cycle d’Observation dengan baik, mereka dapat melanjutkan ke jurusan tang dikehendaki oleh orang tuanya. Jurusan-jurusan yang ada adalah :

1)      Jurusan Pendidikan Penutup (L’enseignement Terminal) dengan lama belajar tiga tahun. Pendidikan ini diberikan khusus bagi peserta didik yang kemampuan inteleknya rendah dan tidak ada sambungannya. Mata pelajaran dititkberatkan kepada ketrampilan yaitu bercocok tanam, pekerjaan tangan, ilmu dagang, bertukang dan menjadi magang di beberapa perusahaan untuk memperoleh pendidikan praktis yang berguna bagi kehidupan mereka. Mereka diberi ijazah certificate d’Etudes Premaires Elementaires.

2)      Jurusan Pendidikan Umum Pendek (L’enseignement Genteral Court). Lama pendidikan tiga tahun. Kurikulumnya menitikberatkan kepada ilmu pasti, dua bahasa asing dan diakhiri dengan ujian. Bagi yang lulus memperoleh ijazah Pendidikan Umum (Brevet d’Enseignement General). Mereka dapat diterima bekerja di pekerjaan yang tidak bersifat teknis misalnya di kantor pemerintahan sebagaimana yang terjadi di Indonesia, yaitu tamat sekolah menengah dapat diterima menjadi pegawai di bagian administrasi, atau mereka diperkenankan melanjutkan pendidikan ke Sekoal Normal Pendidikan Guru.

3)      Jurusan jenis ketiga adalah Pendidikan kejuruan Pendek (L’enseignement Proffessionnele Court) dengan lama belajar empat tahun. Pendidikan ini diperuntukkan bagi peserta didik yang berbakat teknis, yaitu mereka yang tidak berbakat ke pendidikan yang bersifat umum seperti jurusan kedua diatas. Mereka dalam pendidikannya lebih banyak praktik di samping teori. Di Indonesia, pendidikan kejuruan ini seperti: SMEP, SMEA, STM. Kepada mereka juga diberikan mata pelajaran umum untuk meluaskan wawasan mereka. Mereka yang dapat menamatkan pendidikannya diberikan ijazah kejuruan atau Certificat d’Aptiture Proffessionelle. Keahlian yang mereka terima membuka kesempatan mereka untuk ahli menengah dalam bidang industri atau pekerjaan umum.

4)      Jurusan jenis keempat adalah Pendidikan Kejuruan Panjang (L’enseignement Proffessionnele Long). Pendidikan dikhususkan bagi yang berkemampuan intelek atau IQ tinggi. Pada jurusan ini ada dua keahlian Lyceum Kejuruan (Lycees Technique) dan keahlian teknik atau Technique Berevete. Lama pendidikan pada jurusan keahlian pertama empat tahun.

5)      Jurusan Pendidikan Umum Panjang (L’enseignement General Long). Jurusan mempersiapkan peserta didik  untuk melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Lama pendidikan tujuh tahun.

Kelima jurusan menengah diatas terdapat pada kepemimpinan Menteri Pendidikan Nasional Berthion pada tahun 1959 M. di Indonesia, ujian ini dapat disamakan dengan EBTANAS untuk memasuki Perguruan Tinggi. Menurut catatan sejarah pendidikan system pendidikan atau proses belajar-mengajar yang diproses bersifat kaku, yaitu guru memberi kuliah – peserta didik membuat catatan (Cahiers).

Sistem Pendidikan di Negara Kerajaan Kamboja

System pendidikan pada Negara Kamboja tidak jauh system pendidikan di Perancis, yaitu sekolah-sekolah didirikan oleh kaum agama. Kamboja yang luasnya 181.000 km dan memiliki iklim yang sama dengan Negara Indonesia, yakni iklim tropis.

System Pendidikan yang ada di Kamboja pada garis besarnya terdiri dari tiga macam, yaitu :

  1. System Pendidikan Rakyat.
  2. Pendidikan Agama Budha.
  3. Pendidikan Pribadi.

Sistem Pendidikan Rakyat

Pendidikan trdisional di Kamboja berdasarkan pada pendidikan setempat yang diajarkan oleh para guru-guru agama. Para pelajara diharuskan menghafalkan pelajaran-pelajaran agama budha. Selama masa pendudukan Perancis system pendidikan menganut system pendidikan Perancis, selain dari pada pendidikan trdisional.

Pada tahun 1931 M di Kamboja hanya terdapat tujuh orang yang belajar di Sekolah Tinggi, dana pada tahun 1936 M hanya terdapat sekitar 50.000 hingga 60.000 anak yang mendaftar belajar di sekolah dasar. Dari awal abad 20 sampai tahun 1975 M system pendidikan yang dilaksanakan adalah pendidikan rakyat serta pendidikan yang ada di Negara Perancis. System pendidikan ini terdiri dari tiga tingkatan, yaitu:

1)      Sekolah Dasar.

2)      Sekolah Lanjutan

3)      Sekolah Tinggi

4)      Sekolah pribadi.

Pendidikan rakyat ini dibawah naungan hokum Kementerian Pendidikan, yang menggunakan control penuh melebihi system yang ada, yaitu seperti membuat silabi sendiri, menyewa dan membayar guru-guru, menyiapkan persediaan dan membentuk pengawasan-pengawasan sekolah. Seorang pengawas di sekolah dasar haruslah memiliki wibawa, dan para pengawas kini pun ada di setiap provinsi. Komite Kebudayaan pun berada dibawah tanggung Kementerian Pendidikan yang memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan dan memperkaya bahasa Kamboja.

Pendidikan Dasar dibagi dalam dua bagian dengan tiga tahun setiap bagiannya. Keberhasilan menyelasaikan pendidikan pada setiap bagian-bagiannya akan mendapatkan sertifikat pengakuan. Kurkulum Sekolah Dasar di Kamboja terdiri dari : aritmatika, sejarah, etika, kewarganegaraan, wajib militer, geografi, kesehatan, bahasa, dan ilmu pengetahuan, ditambah pendidikan psikologi dan buku pedoman kerja.

Bahasa Perancis diajarakan di tahun kedua. Bahasa Khmer diajarkan dibagian peratama sekolah dasar, dan bahasa Perancis dibagian kedua sekolah dasar, diawal tahun 1970-an.

Bahasa Khmer digunakan lebih luas lagi hingga bagian kedua darin sekolah dasar. Ditahun 1980, pendidikan dasar dimulai dari tingkat satu hingga tingkat empat.

Sekolah lanjutan juga dibagi dalam dua bagian, tiga tahun untuk lanjutan dan setahunnya dipersiapkan sebelum Perguruan Tinggi. Untuk menyelasaikan tingkatan harus menyelasaikan pelajaran secara sebagian-sebagian (berangsur). Untuk menyelasaikan yang pertama dua tahun dalam dua bagian, dan pelajar akan menyelasaikan sebagian pelajarannya, sehingga menjadi sarjana muda (BA), dan dilanjutkan dengan penyelasaian akhir dengan ujian serupa yang telah mereka lewati untuk sarjana lengkapnya.

Kurikulum lanjutan di Kamboja serupa dengan kurikulum lanjutan yang ada di Perancis. Dimulai pada tahun 1967, toga tahun terakhir dari sekolah lanjutan dibagi dalam tiga penyelesaian yang didalamnya mengandung tiga pelajaran pokok, yaitu :

  1. Pelajaran Matematika dan Biologi.
  2. Pertanian.
  3. Biologi.

Di akhir tahun 1960-an dan awal tahun 1970-an, pendidikan kota lebih menekan pada pendidikan teknik. Dalam IRK pendidikan lanjutan dikurangi enam tahun.

Pendidikan tinggi tertinggal dari pendidika dasar dan lanjutan hingga akhir tahun 1950-an. Di akhir tahun 1950-an, pendidikan tinggi terdapat 250 mahasiswa. Mahasiswa banyak belajar di Perancis, tetapi setelah Kamboja mendapatkan kebebasannya, mahasiswa yang belajar Universitas bertambah banyak dan mereka belajar di Amerika Serikat, Kanada, China, Uni Soviet dan Jerman Barat.

Yang paling banyak adalah belajar di universitas Phnom Penh, mendekati 4.570 mahasiswa dan 730 mahasiswi yang ada dalam delapan fakultas :

  1. Sekretaris dan Kemasyarakatan.
  2. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.
  3. Hukum dan Ekonomi.
  4. Kedoteran.
  5. Farmasi.
  6. Ilmu Perdagangan.
  7. Pelatihan Guru
  8. Pelatihan Tinggi Guru.

Banyak universitas yang dibuka diberbagai provinsi yang ada seperti provinsi Kampong Cham, Takev, Batdambang, dan di Phnom Penh sendiri. Tetapi pada tahun 1970, tiga provinsi yang mengadakan universitas tersebut tutp karena peperangan dan ditutup hingga waktu yang tidak ditentukan.

Selama rezim Khmer merah berkuasa di Kamboja, pendidikan mengalami kehancuran dan hampir tidak ada, setelah hamper dua decade rakyat Kamboja dapat membaca dan menulis. Setelah diambil alih oleh Khmer Merah mulai banyak yang buta huruf kembali. Sekolah-sekolah ditutup, dan pendidikan rakyat mati. Ditahun 1970 lebih kurang 20.000 guru yang tinggal di Kamboja, kemudian hanya ada sekitar 5.000 orang guru saja dalam sepuluh tahun terahir. Hamper 90% guru-guru mati terbunuh didalam kekuasaan rezim Khmer Merah. Hanya sekitar 725 pengajar di universitas, 2.300 guru pada sekolah lanjutan, dan sekitar 21.311 guru pada sekolah dasar yang dapat mempertahankan nyawanya pada masa kekuasaan rezim Khmer Merah. Setelah kekuatan Khmer pergi dari Kamboja sitem pendidikan mulai dibangun kembali dari awal atau dasar, karena tidak ada sama sekali. Buta huruf yang terjadi di Kamboja pun melebihi daripada 40% dan anak-anak yang berusia dibawah 14 tahun pun banyak yang kurang memiliki dasar pendidikan.

Pendidikan mulai dibangun secara perlahan dan pasti, dan dibangun oleh kekuasaan PRK. Dalam tahun 1986 mulai dibangun pendidikan tinggi. Fakultas Kedokteran dan Farmasi dibuka pada tahun 1980, Fakultas pertanian mulai berpoerasi pada tahun 1985, Institut Bahasa yang terdiri dari bahasa Vietnam, Jerman, Rusia, dan Spanyol. Fakultas Perdagangan mulai dibuka pada tahun 1979 dan juga Fakultas Pendidikan Vickeri menyatakan bahwa pemerintah dan masyarakat mulai antusias terhadap pendidikan dan pertama lebih diprioritaskan pada tahun 1984 akhir mulai diajarkan bahasa asing.

Martin menggambarkan tentang pendidikan yang dibangun PRK dasarnya menutup diri dari system pendidikan di Vietnam, tetapi mulai menemukan titik temu untuk sekolah dasar dan sekolah lanjutan yang mulai berubah dari secara langsung mencontoh seperti system pendidikan di Vietnam. Dalam kekuasaan PRK, pendidikan dasar masih ada hingga kelas enam, dan tingkat pendidikan lanjutan hingga kelas tiga. Martin juga manuliskan, tidak setiap anak dan pemuda dapat sekolah karena sekolah hanya ada di kota kecil sedangkan di pinggiran kota masih membutuhkan sekolah serupa. Masyarakat buruh biasanya membayar 25 riel perbulan untuk membiayai anak-anaknya sekolah, dan ada juga yang mencapai hingga 150 riel.

Pendidikan Agama Budha

Sebelum Perancis mengadopsi system pendidikannya, pengajar agama Budha sudah ada yang diajarkan oleh para rahib dari kuil yang langsung sebagai gurunya. Para rahib yang menjadi guru tersebut sangat menghormati fungsi pendidikan seperti doktrin yang diajarkan dalam Budha dan sejarah yang ada tanpa memandang untung dan ruginya. Dalam dalam pendidikan ini para pemuda dan pemudi tidak diizinkan belajar didalam lembaga-lembaga yang kecuali untuk membaca, menulis bahasa Khmer, dan mengikuti pengajaran dasar dalam ajaran Budha.

Tahun 1933, system pendidikan lanjutan untuk murid baru diciptakan dengan system pengajaran agama Budha. Seperti sekolah-sekolah di Pali menyediakan tiga tahun untuk menguasai perangkat pendidikan untuk duduk dan diterima di universitas agama Budha Phnom Penh.

Adapun kurikulum agama Budha ini terdiri dari pelajaran yang didapat di Pali, doktrin Budha, dan Khmer. Selain itu didapat pula matematika, sejarah kamboja, geografi, ilmu pengetahuan, kesehatan, kewarganegaraan, pertanian. Ajaran Budha ini berada pada Kementerian Agama.

Hamper 600 sekolah dasar Budha, dengan murid lebih dari 10.000 siswa dan 800 rahib sebagai gurunya, dan ini berakhir hingga tahun 1962. Dalam tingkatan ini siswanya meneruskan belajarnya ke universitas Preah Sihanouk Raj Buddist yang dibangun pada tahun 1959.

Institute agama Budha mulai mengadakan penelitian dan riset di perpustakaan Royal yang dibangun tahun 1930. Banyak cerita di Kamboja yang terkenal, diantaranya adalah kisah Tripitaka yang melengkapi koleksi ajaran agama Budha itu sendiri, yang diterjemahkan dalam bahasa Khmer. Tidak ada informasi yang akurat yang dapat kita lihat tentang kuil Budha ni hingga pada tahun 1987.

Pendidikan Pribadi

Untuk membagi jumlah populasi pendatang di kamboja, pendidikan pribadi memgang peranan yang penting dalam tahun-tahun sebelum komunis keluar dari Kamboja. Bebrapa sekolah pribadi itu mulai beroperasi dan dilakukan oleh etnik atau penduduk beragama minoritas. Penduduk minoritas seperti berkebangsaan China, Vietnam, Eropa, Roma Katolik, dan kaum Muslim, mereka mengajarkan pengajaran bahasa, kebudayaan, dan agama mereka.

Sekolah lainnya yang mereka dirikan juga menyiapkan pendidikan bagi penduduk pribumi. Kehadiran beberapa sekolah pribadi tersebut, khususnya yang berada di Phnom Penh dan peserta yang belajar tentunya banyak dari pendatang dan kebanyakan masih family.

System pendidikan pribadi ini terdiri dari sekolah-sekolah bahasa China, sekolah-sekolah bahasa Perancis, sekolah-sekolah bahasa Inggris, sekolah-sekolah bahasa Khmer. Siswa yang belajar di sekolah-sekolah ini mulai berkembang dari sekitar 32.000 orang pada tahun 1960 menjadi 53.500 orang pada tahun 1970, dan keluaran sekolah ini ada sekitar 19.000 orang setiap periodenya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Mahmud Yunus, Perbandingan Pendidikan Modern di Negara Islam dan Intisari Pendidikan Barat, (Jakarta : CV. Al-Hidayah. 1968), cet. Ke-1, hal. 99.

 

Aminuddin Rasyad, Sistem Pendidikan di Perancis, 2000, Makalah Seminar Kuliah Perbandingan Pendidikan Pasca Sarjana IAIN Syarif Hidayatullha Jakarta, 9 Oktober 2000, hal.17.

 

Mukti Ali, Sistem Pendidikan di Kamboja, 2000, Makalah di Seminarkan pada Mata  Kuliah Perbandingan Pendidikan Pasca Sarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 4 Desember 2000, hal.1.


Countdown
    No dates present
Sekilas Info
Recent Forum Posts
    Partner

    Kontak
    Kantor YP Raudlatul Ulum

    Jl. Raya No 02 Ganjaran Gondanglegi Malang Jatim 65174

    Telp : 0341 - 879846 - 878244 - 878089

    email : info@raudlatul-ulum.com

    YM! :